Marc Marquez mengakhiri Grand Prix Austria di posisi kelima, tetapi balapan itu nyaris berakhir sebelum waktunya. Pembalap Ducati Lenovo itu mengalami masalah serius pada rem depan sepanjang paruh awal race, sampai-sampai ia beberapa kali berpikir untuk menyerah.
Start dari posisi kedua, Marquez langsung kehilangan momentum. Di lap pembuka ia turun ke urutan keempat, lalu terlempar ke posisi ketujuh setelah melebar jauh di tikungan pertama. Bukan karena kecepatan yang hilang, melainkan karena rem depan yang tidak konsisten. Tuas rem terasa berbeda di setiap titik pengereman, membuatnya tak pernah tahu kapan rem akan mengunci.
Tuas Rem yang Tak Bisa Diprediksi
“Di paruh awal balapan saya sangat kesulitan dengan rem depan. Tuasnya tidak konstan, setiap kali mengerem rasanya beda,” ujar Marquez. “Saat kejadian di tikungan pertama, tuas rem mentok ke stang. Tidak ada pengereman sama sekali. Makanya saya tidak sekadar melebar sedikit, tapi benar-benar jauh ke luar.”
Kondisi itu membuatnya waspada ekstra. Alih-alih menyerang, ia lebih dulu membaca karakter rem di setiap zona pengereman. Waktu pun terbuang, dan peluang untuk bersaing di depan kian menipis.
Di tengah keputusasaan, Marquez sempat berpikir bahwa balapan tidak bisa dilanjutkan. “Saya pikir kami sangat beruntung hari ini. Di satu titik saya merasa, ‘Oke, saya tidak bisa terus seperti ini.’ Tapi tiba-tiba di lap berikutnya rem mulai bekerja normal lagi. Setelah itu saya bisa lebih cepat, waktu putaran membaik, dan saya bisa menyalip beberapa pembalap. Tapi sudah terlambat untuk hasil puncak,” kenangnya.
Baca Juga Steiner: Cadillac Harus Stop Kembangkan Mobil 2026 dan Fokus ke 2027Podium yang Hilang
Ketika rem kembali normal, Marquez berhasil merangsek dari posisi ketujuh ke kelima. Namun ia yakin tanpa masalah tersebut, hasil jauh lebih baik sudah di tangan. “Di sisa sirkuit, feeling-nya konstan. Tapi masalah besar tadi membuat saya tidak bisa agresif di lap pertama. Saya harus memahami kapan rem akan menggigit. Saya kehilangan banyak waktu. Hari ini posisi maksimal sebenarnya bisa kedua atau ketiga, tapi kami finis kelima. Itu saja,” tegasnya.
Meski kecewa, Marquez melihat satu sisi positif: masalah ini terekam jelas di data. Ducati bisa menyelidiki penyebabnya dan mencari solusi. “Ini poin penting. Kami tahu ada sesuatu yang salah, dan itu terlihat di data. Sekarang tinggal bagaimana tim memperbaikinya,” pungkasnya.
Hasil di Austria menjadi pukulan telak bagi ambisinya, tetapi juga menjadi peringatan teknis yang harus segera diatasi. Jika tidak, kepercayaan diri Marquez di atas motor bisa terus terganggu, dan peluang memperebutkan gelar semakin rumit.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!