Langit malam Indonesia baru saja menyuguhkan pemandangan memukau. Fenomena alam bulan cincin atau halo bulan muncul dan menarik perhatian banyak orang. Cahaya berbentuk lingkaran besar mengelilingi bulan purnama, sehingga menciptakan ilusi optik yang indah dan mencolok. Selain itu, masyarakat sering mengaitkan fenomena ini dengan pertanda musim hujan atau cuaca buruk. Akibatnya, topik ini menjadi hangat di media sosial dan berita nasional.
Para ahli meteorologi dan astronomi menjelaskan bahwa bulan cincin terjadi karena pembiasan cahaya bulan oleh kristal es di awan sirus. Awan ini berada di ketinggian sekitar 6 kilometer. Oleh karena itu, awan tipis tersebut mengandung tetesan air yang membeku akibat suhu dingin. Kristal es ini memantulkan cahaya seperti lensa kamera. Hasilnya, cincin terbentuk dengan diameter sekitar 22 derajat. Kadang-kadang, cincin kedua muncul dengan ukuran 44 derajat, meskipun hal ini lebih jarang. Selain itu, warna cincin bervariasi dari putih polos hingga gradasi pelangi. Anda bisa melihatnya langsung dengan mata telanjang tanpa alat bantu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Fenomena bulan cincin bukanlah sesuatu yang baru. Berbagai peradaban telah mengamati hal ini sejak ribuan tahun lalu, menurut catatan sejarah. Di era modern, kejadian serupa tercatat pada tahun 1800-an. Selanjutnya, pada 2012, fenomena ini muncul di Hungaria. Kemudian, tahun 2020 menyaksikan kemunculan global. Pada 2023, Inggris melaporkan penampakan serupa. Bahkan, pada 2025, Denver di Amerika Serikat mengalami hal yang sama. Di Indonesia, warga di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya melaporkan penampakan bulan cincin dalam beberapa malam terakhir. Akibatnya, foto dan video menjadi viral di platform seperti X dan Instagram. Misalnya, Rina, seorang warga Jakarta, berkata, “Saya kaget melihatnya, seperti ada cincin raksasa di langit. Indah sekali, tapi sempat khawatir apa pertanda buruk.”
Masyarakat sering menghubungkan bulan cincin dengan datangnya hujan atau badai. Namun, para pakar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa fenomena ini tidak selalu akurat sebagai prediksi cuaca. Seorang ahli meteorologi dari BMKG menyatakan, “Ini lebih merupakan fenomena optik alamiah yang tidak membahayakan. Tidak ada dampak negatif pada tanaman, tanah, atau kesehatan manusia.” Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir berlebihan.
Fenomena ini memberikan kesempatan bagus untuk edukasi sains. Jika Anda menyaksikannya, abadikan momen tersebut dan bagikan dengan hashtag Bulan Cincin Indonesia. Dengan demikian, Anda ikut serta dalam dokumentasi nasional. Selain itu, tetap waspada terhadap perubahan cuaca. Nikmati keindahan alam ini dengan aman. BMKG memprediksi bahwa fenomena serupa mungkin muncul lagi dalam waktu dekat, seiring dengan pergeseran pola awan musiman.
Penulis : David












