Lingga, Nusantara Media – Suasana menjelang Idul Fitri 1447 H di desa-desa Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, terasa pilu dan jauh dari kemeriahan biasanya. Akibat krisis ekonomi yang melanda, banyak warga kehilangan mata pencaharian tetap, sehingga daya beli masyarakat anjlok drastis. Warung-warung kecil yang biasanya ramai pembeli kini sepi melompong, stok kue kering, air minuman kemasan, dan berbagai kebutuhan Lebaran lainnya terpajang begitu saja tanpa tersentuh.
Banyak pedagang kecil mengeluhkan penurunan drastis jumlah pembeli. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana suasana Ramadhan dan persiapan Idul Fitri selalu ramai, kini jalanan desa terlihat sepi. Barang dagangan seperti kue Lebaran dan minuman kemasan menumpuk tak laku, menyebabkan kerugian besar bagi para pedagang.
Tidak hanya kalangan swasta dan pedagang kecil, tapi juga Aparatur Sipil Negara (ASN), perangkat desa, hingga pegawai swasta turut merasakan getirnya. Salah satu pedagang, Ibu Aliu (56 tahun), pemilik warung di salah satu desa di Lingga, mengaku sangat mengeluh atas kondisi ini. Saat dikonfirmasi Reporter Nusantara Media pada Minggu (25/3/2026) pukul 14.00 WIB, ia mengatakan: “Saya sangat mengeluh sekali, karna kurangnya pembeli dan lalu lalang warga tanpak sepi seperti biasa saja. Mungkin terpengaruh tak adanya pekerjaan yang tetap, namun saya lihat pegawai pemerintah pun banyak mengeluh juga karna banyak dana yang di potong.”
Kondisi ini semakin terasa pada minggu terakhir Ramadhan 2026, khususnya di desa-desa Kabupaten Lingga. Pengamatan langsung pada 25 Maret 2026 menunjukkan jalan desa yang biasanya ramai kini lengang, tanpa hiruk-pikuk persiapan Lebaran.
Penyebab utama adalah minimnya lapangan pekerjaan tetap sebagai penopang ekonomi keluarga. Banyak warga kehilangan pekerjaan, ditambah keluhan dari ASN dan perangkat desa terkait potongan dana atau keterlambatan pencairan tunjangan. Hal ini membuat daya beli masyarakat merosot tajam, sehingga persiapan Idul Fitri pun terdampak. Bahkan, banyak rumah di desa tidak lagi memasang lampu pelita atau hiasan untuk menyambut “tujuh likur” (malam ke-27 Ramadhan), sehingga suasana Lebaran tahun ini terasa suram dan tidak meriah seperti biasanya.
Ekonomi mikro di tingkat desa langsung terpuruk. Pedagang kecil mengalami kerugian karena stok barang tak laku, sementara masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok Lebaran. Krisis ini menjadi cermin betapa rentannya ekonomi pedesaan ketika mata pencaharian terganggu dan dukungan pemerintah terbatas.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah dan pusat untuk segera mencari solusi, agar masyarakat Lingga bisa menyambut Idul Fitri dengan hati lebih tenang dan ekonomi yang lebih stabil.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!