Konflik internal di tubuh Red Bull kembali menjadi sorotan setelah Chris Horner secara terbuka mengakui bahwa dirinya sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan Helmut Marko. Hubungan kedua figur penting yang pernah membawa tim meraih kejayaan luar biasa di ajang Formula 1 ini kini telah sepenuhnya rusak. Perseteruan yang awalnya tertutup rapat perlahan-lahan mencuat ke permukaan pasca wafatnya pendiri Red Bull, Dietrich Mateschitz, yang kemudian memicu perebutan pengaruh besar di dalam struktur manajemen tim.
Perebutan kekuasaan tersebut menciptakan atmosfer yang sangat tidak kondusif di garasi Red Bull, bahkan di tengah dominasi luar biasa mereka sepanjang musim 2023. Situasi panas ini berujung pada kepergian sejumlah tokoh penting yang menjadi fondasi kesuksesan tim, termasuk perancang legendaris Adrian Newey, serta spekulasi kepindahan juara dunia Max Verstappen. Tidak hanya itu, ketegangan semakin diperparah dengan berbagai masalah internal, termasuk skandal yang sempat menyeret nama Horner sebelum akhirnya dinyatakan bersih melalui investigasi independen.
Dinamika kekuasaan di Milton Keynes akhirnya mencapai titik nadir ketika Horner harus meninggalkan posisinya pada Juli 2025 setelah dua dekade mengabdi, disusul kemudian oleh Marko yang juga mundur dari perannya di penghujung musim. Dalam pengakuannya kepada media Jerman, Horner menyatakan kekecewaannya yang mendalam terhadap sikap mantan rekan setimnya itu yang dinilai tidak memiliki empati pada saat-saat paling berat dalam kehidupan pribadinya.
“Tidak ada lagi hubungan di antara kami. Pada hari terakhir saya bekerja di Red Bull, kami duduk berdua di kantor dan akhirnya saling bersalaman. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi mendengar kabar darinya, dan itu tidak masalah bagi saya,” ungkap Horner kepada Bild. Ia menambahkan kritik tajam terkait tindakan Marko di masa lalu, “Dia bekerja keras untuk menyingkirkan saya, sementara mantan pasangan saya sekaligus ibu dari putri saya baru saja meninggal dunia saat itu. Dia bahkan tidak mengirimkan ucapan belasungkawa. Itu bukan tindakan yang berkelas.”
Selain masalah pribadi, Horner juga menyoroti perbedaan filosofi kepemimpinan mereka, terutama dalam hal pendekatan terhadap para pebalap muda binaan akademi Red Bull. Menurutnya, Marko sering kali terlalu keras dan menekan mental para pebalap muda, meskipun ia juga mengakui ada sisi dari karakternya sendiri yang kerap memicu gesekan dengan pria asal Austria tersebut. Horner juga menyinggung kebiasaan Marko yang kerap membocorkan informasi internal tim kepada media, yang kerap kali merusak stabilitas dan strategi tim.
Baca Juga Schiff: Keuntungan Red Bull dari Swap Pembalap di GP Belanda“Saya merasa dia selalu terlalu keras kepada para pebalap muda. Namun, tentu saja ada aspek dari karakter saya yang juga membuatnya merasa terganggu,” ujar Horner dalam siniar Up to Speed. Ia bahkan memberikan komentar khusus mengenai situasi saat ini di bawah manajemen baru, “Dia memainkan peran kunci dalam kepindahan saya ke Red Bull, tetapi dia bisa membuat hidup Anda sangat sulit. Sangat menjengkelkan ketika dia terus-menerus membocorkan informasi internal seperti strategi balapan, berita pebalap, dan tim yang merugikan tim, dan kami harus memperbaikinya. Laurent Mekies tidak menyadari betapa beruntungnya dia sekarang.”
Meskipun babak kariernya bersama Red Bull telah resmi tertutup dan Marko dipastikan tidak akan kembali ke ajang Formula 1 karena faktor usia, Horner menegaskan bahwa dirinya masih memiliki ambisi besar di dunia balap. Pria asal Inggris tersebut mengisyaratkan kesiapan untuk kembali mengambil peran strategis, tidak hanya sebagai pimpinan tim biasa, melainkan mencari proyek ambisius di mana ia juga bisa memiliki kepemilikan saham di dalam tim tersebut.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!