Masa depan dan dinamika internal tim Ferrari kini berada di bawah sorotan tajam setelah insiden kontroversial yang melibatkan Lewis Hamilton pada Grand Prix Singapura. Juara dunia tujuh kali tersebut finis di posisi keenam setelah secara sepihak memilih untuk mengabaikan instruksi masuk ke dalam jalur pit yang diberikan oleh timnya saat periode virtual safety car berlangsung.

Keputusan strategis yang diambil secara mandiri oleh Hamilton ini langsung memicu perdebatan luas di paddock Formula 1. Mantan ahli strategi Aston Martin sekaligus pengamat Sky Sports F1, Bernie Collins, menilai bahwa tindakan menolak panggilan tim tersebut mencerminkan indikasi nyata adanya krisis kepercayaan yang mendalam antara sang pembalap asal Inggris dan skuad asal Maranello.

Dalam siniar Sky Sports F1 Show, Collins menjelaskan bahwa situasi genting di pit wall tidak memberikan ruang bagi perdebatan panjang atau komunikasi dua arah yang kompleks ketika keputusan pecahan detik harus diambil. Namun, tindakan Hamilton yang memilih untuk mengambil alih kendali strategi ban soft sejauh 44 lap justru menjadi bumerang yang merugikan peluang podium yang seharusnya bisa diraih dengan mudah.

- Advertisement -
Advertisement

Collins juga menyoroti bahwa Ferrari gagal memanfaatkan peluang susulan untuk melakukan pit stop reguler yang masih memungkinkan Hamilton mengamankan posisi di depan Oscar Piastri. Alih-alih mengeksekusi strategi yang aman, tim justru memilih untuk memperpanjang stint ban dengan harapan munculnya safety car lanjutan, sebuah pertaruhan yang akhirnya berbuah kegagalan total di garis finis.

Baca Juga Max Verstappen Kritik Keputusan Red Bull Terkait Liam Lawson 2025: Terlalu Cepat Membunuh Peluang?

Lebih lanjut, Collins berpendapat bahwa Ferrari harus segera menggelar evaluasi internal yang serius guna meluruskan protokol komunikasi dan memperkuat fondasi kerja sama. Percakapan jujur dan mendalam antara Hamilton, para insinyur balap, serta pimpinan tim mutlak diperlukan untuk menjawab ke mana arah kepercayaan di dalam garasi tim kuda jingkrak tersebut.

Di sisi lain, Collins mengakui bahwa pembalap seharusnya tetap mematuhi instruksi dari pit wall karena dinding pit memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dan komprehensif. Kendati demikian, ia juga mengingatkan bahwa pembalap sering kali dianggap sebagai sensor paling mahal di dalam kokpit mobil, sehingga transparansi informasi pra-kejadian menjadi kunci utama untuk meredam potensi konflik strategi di masa mendatang.