Akhir pekan balapan di Circuit of the Americas dalam ajang Formula 1 Grand Prix Amerika Serikat menyisakan pekerjaan rumah yang amat besar bagi Red Bull. Pembalap muda berbakat asal Prancis, Isack Hadjar, secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap performa teknis mobilnya setelah hanya mampu finis di posisi keenam. Padahal, ia memulai balapan dari posisi start yang sangat menjanjikan di urutan ketiga, sebuah pencapaian awal yang seharusnya bisa dikonversi menjadi podium jika tidak terkendala masalah mekanis yang pelik.

Permasalahan utama yang disoroti oleh Hadjar adalah sistem kopling pada mobil RB22 yang dinilai sangat rapuh dan sama sekali tidak tahan terhadap fluktuasi temperatur yang tinggi di lintasan Texas. Masalah start yang buruk ini sebenarnya bukanlah hal baru dan telah menjadi anomaly konsisten yang menghantui skuad asal Milton Keynes tersebut sepanjang musim. Ketika lampu start padam, Hadjar langsung kedodoran dan dengan mudah disusul oleh kedua pembalap Ferrari, merusak seluruh strategi balapan yang telah dirancang bersama tim sejak sesi latihan bebas.

Berbicara kepada media seusai balapan yang menguras emosi tersebut, Hadjar menegaskan bahwa dirinya telah menjalankan seluruh prosedur operasional standar dengan sangat sempurna tanpa ada kesalahan sedikitpun dari sisi kemudi. Namun, kendala teknis di luar kendali kembali merusak usahanya di atas aspal. "Saya melakukan segalanya secara sempurna dalam hal prosedur, dan kemudian saya mengalami kelebihan pasokan kopling atau clutch over-delivery. Dan hal-hal ini berada di luar kendali saya," ungkap Hadjar dengan nada kecewa menggambarkan betapa frustrasinya situasi di kokpit.

- Advertisement -
Advertisement

Situasi pelik di dalam garasi Red Bull semakin diperparah oleh gangguan komunikasi radio yang buruk selama balapan berlangsung, sebuah kendala teknis serupa yang juga dikeluhkan oleh rekan setimnya, Max Verstappen, yang pada akhirnya harus puas finis di posisi ketiga setelah memulai balapan dari grid kedua. Akibat buruknya kualitas sinyal radio di area pit lane, Hadjar sama sekali tidak dapat mendengar instruksi krusial dari para insinyurnya ketika ia melakukan pit stop krusial, yang berujung pada kembalinya ia ke trek dengan menggunakan peta mesin atau engine map yang salah.

Baca Juga Isack Hadjar Klaim Max Verstappen Bisa Menang Lebih Telak Bersama Ferrari

Kesalahan setelan mesin tersebut berdampak langsung pada hilangnya catatan waktu yang masif, di mana ia kehilangan hingga satu detik penuh per putaran saat mengandalkan kompon ban keras atau hard tyre. Ketika ditanya mengenai potensi solusi cepat untuk mengatasi masalah berulang ini, Hadjar secara tegas menepis adanya perbaikan instan. Menurutnya, satu-satunya jalan keluar agar tim tidak terus-menerus kehilangan poin krusial adalah dengan melakukan perombakan total secara menyeluruh pada komponen krusial tersebut demi masa depan paruh musim yang lebih kompetitif.

"Itu butuh perancangan ulang karena saat ini sistemnya terlalu rapuh dan tidak mampu mengatasi temperatur dengan baik. Ini adalah perjuangan yang nyata," pungkas Hadjar. Rentetan masalah teknis ini semakin memperberat langkah sang pembalap muda setelah sebelumnya juga mengalami akhir pekan yang berat di GP Singapura, di mana ia hanya mampu finis di posisi kesepuluh dalam rangkaian seri balap penuh drama tersebut.