Pembalap muda Isack Hadjar melontarkan pandangan mengejutkan jelang akhir pekan balap Formula 1 di Amerika Serikat. Ia meyakini bahwa Red Bull sebenarnya tidak menurunkan mobil tercepat pada Grand Prix Singapura lalu. Dominasi yang ditunjukkan oleh rekan setimnya, Max Verstappen, di Sirkuit Jalan Raya Marina Bay disebut lebih banyak lahir dari kejeniusan sang juara dunia empat kali ketimbang keunggulan teknis dari mesin RB20.
Verstappen sendiri datang ke seri Amerika Serikat dengan modal berharga berupa dua kemenangan beruntun di Bahrain, Malaysia, dan puncaknya di Singapura. Pembalap asal Belanda itu tampil nyaris tanpa cela sepanjang akhir pekan di Marina Bay, merebut pole position untuk sesi sprint maupun balapan utama, serta mengonversinya menjadi kemenangan ganda yang meyakinkan di bawah lampu sorot malam kota singa tersebut.
Namun, dalam sesi konferensi pers resmi di Austin, Hadjar secara terbuka menepis anggapan bahwa skuad asal Milton Keynes tersebut kini kembali memegang kendali penuh sebagai pemilik mobil paling superior di grid F1 musim ini. Menurut pembalap berkebangsaan Prancis-Aljazair itu, karakter mobil Red Bull masih terkenal sangat sulit untuk dijinakkan dan dikendalikan secara konsisten oleh para pembalapnya di atas lintasan.
Tidak, karena saya pikir mobil ini masih sangat sulit dikendarai, ujar Hadjar menjelaskan situasi internal timnya kepada para awak media yang hadir. Di Malaysia, mobil kami memang tampil dominan, tetapi saya tidak berpikir bahwa di Singapura kami memegang paket mobil tercepat di grid.
Ketika didesak lebih jauh mengenai argumen tersebut mengingat Verstappen sukses finis dengan keunggulan telak 7,3 detik atas pembalap Ferrari Charles Leclerc di posisi kedua, Hadjar memberikan jawaban yang menegaskan kapasitas sang juara bertahan. Itulah yang saya yakini. Saya pikir jika Anda menempatkan Max di dalam kokpit Ferrari, ia justru akan memenangkan balapan dengan margin selisih waktu yang jauh lebih besar. Jadi itu murni pendapat saya pribadi.
Hadjar menegaskan bahwa Verstappen mampu memaksimalkan setiap celah keuntungan yang ada, alih-alih sekadar mengandalkan kecepatan murni dari paket teknis Red Bull. Ia mencatat bagaimana Verstappen merebut pole position dengan selisih yang sangat tipis, ditambah faktor strategi ban yang dimanfaatkan dengan sempurna oleh sang pembalap andalan tim.
Baca Juga George Russell dan Tekanan Antonelli di Monza: Mimpi Buruk?Ia mengamankan pole position dengan selisih setengah sepersepuluh detik. Ferrari juga tidak memiliki set ban baru di balapan utama, tidak pada kompon soft, sehingga hal itu tentu memiliki efek tersendiri terhadap jalannya lomba, lanjut Hadjar. Ia menaruh seluruh peluang keberhasilan di pihaknya, membuat perbedaan krusial di sesi Q3, dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengunci kemenangan.
Di sisi lain, pandangan berbeda sempat diungkapkan oleh pembalap McLaren Oscar Piastri yang turut mendampingi Hadjar dalam konferensi pers tersebut. Piastri menilai bahwa paket pembaruan teknis yang dibawa Red Bull sejak Grand Prix Azerbaijan terbukti sangat kuat, menjadikan skuad tersebut sebagai salah satu tim dengan ritme kecepatan paling konsisten dalam beberapa seri terakhir.
Persaingan ketat di sisa enam seri musim ini membuat perebutan posisi di klasemen konstruktor semakin memanas. Red Bull saat ini berada di peringkat keempat klasemen sementara, terpaut tipis tujuh poin di belakang McLaren yang menghuni posisi ketiga. Sementara itu, Verstappen juga berada di tangga keempat klasemen pembalap dengan koleksi 221 poin, terus menempel ketat posisi Lewis Hamilton di peringkat ketiga dengan raihan 229 poin.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!