Lewis Hamilton merasa peluangnya meraih gelar juara dunia Formula 1 musim ini semakin menjauh setelah Ferrari dinilainya terlambat mengambil keputusan penting. Usai finis keenam di Grand Prix Italia, Minggu (8/9), pebalap asal Inggris itu mengaku timnya sudah “banyak minggu terlalu lambat” untuk memprioritaskan dirinya di atas Charles Leclerc.

Hamilton menjalani akhir pekan yang mengecewakan di Monza. Ia sempat terlibat insiden dengan rekan setimnya, Charles Leclerc, di tikungan kedua lap pembuka yang membuatnya terlempar ke posisi 10. Leclerc sendiri kemudian keluar lintasan pada lap kedua, namun ia lolos dari sanksi steward. Meski mesin Ferrari yang ditingkatkan tidak mampu mengejar Mercedes, Hamilton juga harus bertahan dengan ban yang aus karena tim tidak memanggilnya masuk saat virtual safety car muncul di akhir balapan.

Kegagalan operasional ini memicu kembali pertanyaan tentang kemampuan Ferrari dalam mengelola balapan, terutama dalam hal mendukung perburuan gelar Hamilton yang kini tertinggal 76 poin dari pemimpin klasemen, Andrea Kimi Antonelli. “Saya pikir hari ini kami kehilangan banyak poin. Sudah terlalu larut untuk keputusan seperti itu. Sudah banyak minggu terlalu lambat. Yang bisa saya lakukan hanyalah tampil dan memberikan yang terbaik,” ujar Hamilton dengan nada kecewa.

- Advertisement -
Advertisement

Hamilton juga menyoroti perlunya perubahan pendekatan dari puncak tim. “Semuanya berawal dari atas, keputusan mengalir ke bawah, dan itu dimulai dari Fred [Vasseur]. Hanya ada batas seberapa banyak yang bisa kami katakan dan dorong,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa Ferrari terus mendapatkan hasil yang sama dan perlu mengubah cara berkomunikasi agar bisa maju.

Baca Juga Bearman dan Bortoleto Lolos Hukuman Berat saat Insiden Pit Lane di GP Belanda

Pengalaman di Mercedes membuat Hamilton percaya bahwa aturan main yang tertulis bisa menjadi solusi. “Saat di Mercedes, kami punya aturan main tertulis. Hampir tidak pernah ada masalah serius,” kenangnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa Ferrari mungkin perlu mengadopsi pendekatan serupa untuk menghindari konflik antar pebalap di masa depan.

Dengan sisa musim yang semakin sedikit, Hamilton tampaknya harus menerima kenyataan bahwa gelar juara dunia kedelapannya mungkin harus menunggu lebih lama lagi. Namun, ia tetap bertekad untuk berjuang hingga akhir, meski peluang itu kini berada di luar jangkauan.