Maranello mungkin sudah membawa paket peningkatan power unit kedua musim ini, tetapi Fred Vasseur dengan jujur mengakui bahwa Ferrari masih belum mampu mengejar ketertinggalan dari mesin Mercedes. Bos tim Scuderia itu menegaskan, sejak awal mereka tidak pernah berharap bisa menyamai level rivalnya pada 2026.
Mercedes memang tampil sebagai kuda hitam sejak regulasi teknis baru diperkenalkan. Power unit pabrikan Jerman itu dianggap paling bertenaga, dan sistem ADUO (Additional Development and Upgrades Opportunities) sebenarnya memberi peluang bagi pabrikan lain untuk menutup celah. Ferrari, Audi, dan Honda masing-masing berhak melakukan dua kali pengembangan, sementara Mercedes hanya satu kali untuk 2026 dan 2027.
Namun, hingga pertengahan musim, Mercedes belum sekalipun memakai izin upgrade mereka – kabarnya baru akan dilakukan pada Oktober – sementara Ferrari sudah dua kali mencoba. Upgrade pertama debut di Austria, lalu yang kedua di Monza. Hasilnya? Tetap saja kurang. Di sirkuit yang paling sensitif terhadap tenaga seperti Monza, Lewis Hamilton dan Charles Leclerc hanya mampu start dari posisi kelima dan keempat. Hasil balapan justru lebih buruk: Leclerc tersingkir setelah bertabrakan dengan rekan setimnya di tikungan awal.
Data top speed juga memperlihatkan cerita yang sama. Power unit Ferrari tercatat 5,6 km/jam lebih lambat di sektor lurus jika dibandingkan dengan mobil Haas yang memakai mesin Mercedes, saat kualifikasi. Vasseur pun melontarkan candaan getir setelah balapan kandang yang sulit: “Setidaknya saya benar dalam satu hal.”
Menariknya, Vasseur menolak anggapan bahwa masalahnya terletak pada strategi distribusi energi. Menurutnya, jika sebuah mesin kekurangan tenaga murni, maka tim akan bermain-main dengan deployment untuk mengompensasi di satu trek lurus, tetapi konsekuensinya akan terasa di bagian trek lain. “Itu akan menjadi spiral yang salah saat Anda sedang bertarung,” ujarnya. “Jujur saja, ini bukan soal deployment. Kami memang kehilangan tenaga murni.”
Baca Juga Albon: Williams Tak Bisa Sembunyikan Rahasia Set-UpIa lalu memberi gambaran betapa signifkannya dampak defisit tenaga ini. “Jika Anda kehilangan X di Zandvoort, Anda tertinggal dua atau tiga persepuluh detik. Tetapi di Monza, delta dengan Mercedes bisa dua kali lebih besar meski selisih tenaganya lebih kecil,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa karakter sirkuit sangat menentukan seberapa besar hukuman yang harus dibayar akibat kurangnya tenaga mesin.
Salah satu faktor yang membuat Ferrari kesulitan berkembang adalah batasan biaya untuk power unit. Vasseur mengakui bahwa proses pengembangan mesin memakan waktu sangat lama karena lead time komponennya panjang. Namun ia juga membuka peluang bahwa musim ini masih panjang, dan kesempatan untuk memperbaiki diri masih ada. Apakah Ferrari bisa keluar dari spiral negatif ini? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!