David Coulthard, mantan pembalap Formula 1, melontarkan kritik tajam terhadap FIA terkait lambatnya pengambilan keputusan saat menetralkan balapan. Menurutnya, insiden yang melibatkan Lando Norris di Grand Prix Spanyol menjadi bukti nyata bahwa ada ruang perbaikan yang mendesak.
Dalam balapan perdana di sirkuit Madring, Norris yang memimpin perlombaan harus kehilangan kemenangan yang sudah di depan mata. Lance Stroll dari Aston Martin mengalami kegagalan rem dan berhenti di lintasan. Saat virtual safety car (VSC) dikerahkan, Norris sudah melewati garis masuk pit, sehingga Kimi Antonelli dari Mercedes bisa masuk pit dengan murah dan merebut kemenangan kedelapannya musim ini.
"Satu hal yang saya pertanyakan lagi adalah waktu yang dibutuhkan antara insiden dan pengumuman virtual safety car, safety car, atau red flag. Saya pikir itu bisa dirapikan," ujar Coulthard dalam podcast Up To Speed.
Mantan presenter F1 TV, Will Buxton, yang ikut membawakan podcast tersebut, menambahkan bahwa masalah safety car memang sering kali tidak adil. "Karena Lando sudah keluar dan dia bilang, 'VSC dan safety car, dan segala hal di Formula 1, seharusnya tidak menentukan balapan. F1 adalah tentang performa terbaik dan strategi yang baik.' Saya mengerti itu. Tapi soal safety car, virtual safety car, apakah Anda menutup pit atau tidak, kapan VSC keluar atau tidak, kapan safety car penuh keluar atau tidak, itu semua keberuntungan. Anda akan berada di sisi koin yang menguntungkan atau sisi yang menghancurkan hari Anda. Tidak ada titik tengah. Jadi, apa pun yang Anda lakukan, karena Anda akan selalu memiliki safety car dan Anda selalu membutuhkan titik di mana Anda menetralkan balapan demi faktor keselamatan. Itu tidak terjadi setiap balapan. Tapi jika dan ketika itu terjadi, seseorang akan dirugikan, dan seseorang akan beruntung. Itu hanya keberuntungan. Bagaimana Anda membuat undang-undang untuk membuat momen yang secara alami tidak adil? Anda tidak bisa membuatnya adil."
Ketika ditanya apakah ada solusi untuk masalah ini, Coulthard menegaskan bahwa ada ruang untuk perbaikan. "Waktu yang dibutuhkan antara insiden dan keputusan. Beberapa insiden sangat jelas, seperti di Monza. Butuh beberapa saat sebelum red flag dikibarkan padahal sudah jelas ada kecelakaan besar di Parabolica. Seharusnya secepat bendera kuning dikibarkan, bendera merah juga harusnya sudah keluar. Jadi ada ruang untuk perbaikan," tambahnya.
Baca Juga Kontrak Baru Verstappen Selamatkan Jabatan Domenicali di F1Kritik ini menyoroti tantangan teknis dan prosedural yang dihadapi FIA dalam menyeimbangkan keselamatan dan keadilan kompetitif. Keputusan yang lambat tidak hanya mempengaruhi hasil balapan tetapi juga dapat merusak integritas olahraga. Pembalap seperti Norris dan tim seperti McLaren merasakan langsung dampaknya, sementara Mercedes dan Antonelli diuntungkan oleh keadaan.
Dengan teknologi yang semakin canggih, seharusnya FIA dapat mempercepat proses pengambilan keputusan, mungkin dengan bantuan AI atau sistem otomatis yang dapat mendeteksi insiden dan mengaktifkan netralisasi lebih cepat. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi dan interpretasi manusia yang tetap diperlukan dalam situasi kompleks.
Hingga saat ini, FIA belum memberikan komentar resmi terkait permintaan Coulthard. Namun, tekanan dari publik dan mantan pembalap seperti Coulthard dapat mendorong perubahan regulasi di masa depan demi balapan yang lebih adil dan aman.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!