Pebalap muda asal Amerika Serikat, Colton Herta, akhirnya berhasil menuntaskan rintangan terakhir untuk mengamankan syarat kelayakan superlicence Formula 1. Kepastian ini diraih setelah ia menjalani sesi latihan bebas pertama (FP1) yang bersih tanpa penalti bersama tim Cadillac pada akhir pekan Grand Prix Brasil di Sirkuit Interlagos.
Kehadiran Herta di kokpit mobil F1 menggantikan Sergio Perez di Interlagos bertujuan untuk mengunci satu poin krusial terakhir yang dibutuhkan agar dirinya resmi memegang lisensi balap level tertinggi tersebut. Meski masa depan kursinya untuk musim depan masih menjadi spekulasi, kepemilikan superlicence ini memberikan fleksibilitas jangka panjang bagi tim untuk tahun-tahun mendatang.
Sebelumnya, kubu Cadillac sempat mengira target 40 poin yang diwajibkan oleh FIA telah terpenuhi usai penampilan Herta di FP1 Meksiko sepekan sebelumnya. Namun, sebuah kekeliruan administrasi terkait hasil masa lalunya di ajang IndyCar membuat sang pebalap masih kurang satu poin, sehingga ia harus kembali turun pista di Brasil.
Tantangan di Interlagos sempat diwarnai sedikit drama ketika bendera merah berkibar di awal sesi, yang berpotensi memotong jarak tempuh minimal 100 kilometer yang diwajibkan. Selain itu, Herta sempat melewati batas jalur masuk pit saat bendera merah dikibarkan, namun pengawas balapan memutuskan tidak ada investigasi lanjutan karena lampu indikator menyala terlambat.
Perwakilan tim, Marc Hynes, memberikan apresiasi atas kerja keras sang pebalap sepanjang sesi latihan yang berjalan produktif. Hynes mengungkapkan bahwa Herta menunjukkan perkembangan signifikan meskipun harus membagi fokus dengan musim Formula 2 yang dinilai sangat menantang bagi pendatang baru.
Baca Juga Menanti Formula 1, Imola Bersiap Hadapi Tahun Transformasi 2027"Ini adalah langkah besar untuk datang ke Eropa demi mengejar mimpi F1, dan saya sangat mengagumi hal itu," ujar Hynes menjelaskan tantangan transisi Herta dari balapan Amerika ke kancah balap formula di Eropa.
"F2 sangatlah sulit. Anda menghadapi para pebalap yang sudah saling mengenal sejak masa karting dan sangat memahami karakteristik ban serta sirkuit. Datang ke lingkungan seperti itu tentu sangat berat, tetapi FP1 memberi kesempatan untuk menambah jarak tempuh dan ia tampil semakin meyakinkan setiap kali turun ke lintasan," tambah Hynes mengakhiri.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!