Mantan CEO dan Kepala Tim Red Bull Racing, Christian Horner, secara mengejutkan mengungkap sebuah fakta masa lalu yang belum pernah terpublikasikan sebelumnya terkait rival abadi mereka di ajang Formula 1, yaitu tim Mercedes. Sosok yang selalu menjadi figur kontroversial sekaligus disegani di paddock F1 ini membeberkan bahwa dirinya nyaris menyeberang ke kubu panah perak lebih dari satu dekade lalu.
Pengungkapan mengejutkan tersebut tertuang dalam buku baru karyanya yang berjudul Drive. Pria berusia 52 tahun itu menceritakan bagaimana mendiang legenda F1 asal Austria, Niki Lauda, datang langsung menemuinya di rumah untuk menawarkan posisi sebagai kepala tim Mercedes guna membujuknya meninggalkan struktur kepemimpinan Red Bull Racing yang sedang merintis masa kejayaan.
Pertemuan rahasia tersebut terjadi setelah Christian Horner sempat melakukan pembicaraan personal dengan Lewis Hamilton, yang pada masa itu sedang mencari jalan keluar dari McLaren sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan skuad yang berbasis di Brackley tersebut. Kunjungan mendadak Lauda ke kediamannya diakui membuat Horner merasa benar-benar terkejut dan tidak menduga sama sekali.
Dalam pertemuan itu, Niki Lauda disebut membeberkan serangkaian angka yang memukau sebagai tawaran gaji fantastis jika ia bersedia menerima pinangan tersebut. Lauda bahkan sempat melontarkan kalimat provokatif dengan menyatakan bahwa Red Bull tidak akan pernah mampu membayar gajinya sebesar nominal yang disiapkan oleh pihak Mercedes.
Meskipun dihadapkan pada tawaran finansial yang sangat menggiurkan dan potensi kenaikan pendapatan yang masif, tawaran tersebut pada akhirnya ditolak secara halus oleh Horner. Ia secara terbuka mengaku kepada sang juara dunia tiga kali tersebut bahwa dirinya memiliki rasa loyalitas yang mendalam terhadap mendiang Dietrich Mateschitz serta seluruh anggota tim yang telah membangun fondasi bersama.
Baca Juga Bos Haas Ungkap Momen Kunci Rafael Camara Buktikan Bakat F1Keputusan besar yang diambil pada masa lalu itu terbukti menjadi titik balik yang krusial dan pada akhirnya membuahkan hasil positif bagi kedua belah pihak. Horner memilih untuk tetap bertahan di Red Bull hingga era kepemimpinannya melahirkan dominasi luar biasa, termasuk menyumbangkan lima gelar juara dunia pembalap dan tiga gelar juara dunia konstruktor pada rentang tahun 2013 hingga 2025, serta titel beruntun bersama Sebastian Vettel.
Sementara itu, kegagalan merekrut Horner justru membuka jalan bagi Mercedes untuk menunjuk Toto Wolff, seorang pengusaha asal Austria sekaligus mantan pebalap, yang sukses memimpin skuad pabrikan Jerman tersebut mendominasi era modern Formula 1. Keputusan historis ini tetap menjadi salah satu cerita di balik layar paling menarik dalam sejarah modern ajang balap kasta tertinggi dunia.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!