Dibalik ketenangan yang selalu dipancarkannya di dinding pit Red Bull Racing, Christian Horner ternyata menyimpan sebuah pergulatan mental yang berat. Selama 21 musim memimpin skuad yang berbasis di Milton Keynes tersebut, pria berusia 52 tahun itu secara mengejutkan mulai mengalami serangan panik menjelang akhir masa jabatannya. Penampilan luar yang selalu terkalkulasi dan penuh percaya diri ternyata menyembunyikan badai kesehatan mental yang sedang ia hadapi di balik layar.
Pada awalnya, Horner sempat mengira bahwa sensasi aneh yang dirasakannya hanyalah akibat kelelahan biasa atau terlalu banyak mengonsumsi kopi di tengah cuaca yang panas dan lembap. Namun, setelah menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh, ia mendapati fakta bahwa dirinya sebenarnya sedang menderita kecemasan atau anxiety yang memicu serangan panik. Tubuhnya memberikan sinyal peringatan keras setelah bertahun-tahun bekerja dengan tekanan yang sangat tinggi di kancah balap jet darat paling bergengsi di dunia.
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan The Guardian, Horner menceritakan momen-momen membingungkan ketika gejala tersebut pertama kali menyerangnya secara tiba-tiba. "Saya tidak tahu apa itu," ujar Horner menggambarkan pengalamannya. "Anda tiba-tiba merasa pusing dan sadar akan pernapasan Anda, dan Anda berpikir ada sesuatu yang aneh sedang terjadi. Saya menganggapnya sebagai akibat terlalu banyak minum kopi pada hari yang menyesakkan, lembap, dan badai."
Situasi tersebut tidak berhenti sekali saja, melainkan terulang kembali hingga membuatnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke tenaga medis profesional. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa secara fisik tidak ada masalah serius pada tubuhnya, melainkan pola pernapasan yang sangat dangkal akibat kecemasan. "Lalu itu terjadi lagi. Saya memeriksakan diri, dan tidak ada masalah fisik sama sekali. Mereka berkata, 'Kami pikir Anda mengalami kecemasan. Pernapasan Anda sangat dangkal.' Itu adalah tubuh saya yang memberi tahu Anda bahwa Anda mendorong terlalu keras di sini. Saya sekarang dapat mengenali gejalanya dan membiarkannya pergi, dan bernapas," tambahnya.
Baca Juga Pembalap Muda Ferrari Rafael Camara Resmi Gabung Haas F1Pengalaman pribadi ini turut mengubah pandangan Horner terhadap sesama tokoh penting di paddock, terutama Toto Wolff yang merupakan rival lamanya. Wolff sebelumnya pernah secara terbuka berbicara mengenai perjuangannya melawan depresi klinis, sebuah langkah berani yang kini mendapat apresiasi tinggi dari Horner. Horner menilai bahwa identitas banyak pria paruh baya sangat melekat pada pekerjaan mereka, sehingga kehilangan posisi tersebut bisa memicu krisis eksistensial yang mendalam tentang tujuan hidup.
Saat ini, Horner masih berada di pinggir lapangan setelah perpisahannya dari Red Bull dan baru-baru ini juga telah membantah rumor yang sempat beredar mengenai kemungkinan dirinya akan bergabung dengan Ferrari. Pengalaman menghadapi serangan panik ini memberikan perspektif baru bagi perjalanan kariernya yang panjang di dunia motorsport internasional, sekaligus membuka percakapan penting mengenai kesehatan mental di kalangan petinggi tim balap.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!