Prinsipal tim Red Bull Racing, Christian Horner, meyakini bahwa masa-masa awal kepindahan Adrian Newey ke skuad Silverstone membawa deja vu yang kuat terhadap masa lalu. Berdasarkan pengamatan dari luar, Horner melihat dinamika yang sedang terjadi saat ini sangat mirip dengan proses adaptasi ketika sang perancang legendaris tersebut pertama kali bergabung dengan skuad yang berbasis di Milton Keynes pada awal tahun 2006 silam.
Perjalanan sejarah mencatat bahwa kehadiran Newey di masa lalu sukses mengangkat Red Bull dari sebuah tim semenjana menjadi kekuatan dominan di ajang Formula 1. Berkolaborasi erat dengan Christian Horner, sang maestro aerodinamika berhasil mengantarkan para pebalap bintang seperti Sebastian Vettel dan Max Verstappen meraih masing-masing empat gelar juara dunia secara beruntun. Tidak hanya itu, mereka juga sukses mengamankan total enam gelar juara dunia kategori konstruktor secara gemilang.
Namun, di balik rentetan prestasi luar biasa tersebut, Christian Horner mengungkapkan bahwa kedatangan Newey pada awalnya tidak berjalan tanpa hambatan internal. Sempat ada resistensi yang cukup terasa dari para anggota lama yang merupakan sisa-sisa warisan dari era kepemilikan Jaguar sebelumnya. Kubu 'old guard' tersebut sempat beranggapan bahwa Newey lah yang harus menyesuaikan diri dengan sistem dan cara kerja yang sudah mapan di dalam internal tim pada saat itu.
Menanggapi situasi tersebut, Christian Horner mengambil sikap tegas dan berpihak sepenuhnya kepada sang desainer. Dalam wawancaranya dengan Autosport, Horner secara blak-blakan menceritakan bagaimana dirinya memotong perdebatan internal dengan alasan rekam jejak yang berbicara. Ia menyadari betul bahwa pada saat itu Newey telah mengantongi lebih dari 100 kemenangan balapan dalam kariernya, sementara tim yang diwarisi dari Jaguar sama sekali belum pernah merasakan manisnya kemenangan di Formula 1.
Keputusan mutlak tersebut membuat Horner memilih untuk membangun seluruh struktur tim demi mendukung kebutuhan dan metode kerja sang insinyur jenius. "Ada perasaan, tentu saja dalam lingkaran lama kelompok mantan Jaguar, bahwa 'yah, Adrian harus menyesuaikan diri dengan cara kerja kami'. Dan saya berpikir, 'tidak, kalian harus menyesuaikan diri dengan cara kerjanya'," ujar Horner menegaskan posisi kepemimpinannya kala itu.
Baca Juga GP Singapura 2026: Max Verstappen Rebut Pole Ke-50 di Marina BayKini, situasi serupa diyakini sedang terulang kembali seiring langkah kepindahan sang perancang ke markas Aston Martin. Musim perdana sang desainer legendaris di bawah komando tim yang bermarkas di Silverstone tersebut memang tidak langsung dimulai dengan hasil yang mulus di atas lintasan. Aston Martin tercatat masih harus berjuang keras mengatasi berbagai masalah performa yang bersumber dari kekurangan pada sektor sasis mobil serta konsep unit daya pabrikan Honda di awal musim kompetisi.
Meskipun pihak tim telah menunjukkan progres perbaikan yang positif dari sisi aerodinamika, pabrikan mesin asal Jepang tersebut dinilai masih perlu meningkatkan daya saingnya jika ingin mengejar ketertinggalan dari para rival terdekat. Kendati demikian, Horner memandang bahwa awal lambat yang dialami oleh sang insinyur bersama skuad barunya adalah sebuah proses alami yang memang membutuhkan waktu untuk merestrukturisasi ulang seluruh sistem kerja yang ada di dalam pabrik.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!