Lewis Hamilton terpaksa mengakhiri balapan Spanish Grand Prix lebih awal setelah mengalami kegagalan rem pada mobil Ferrari SF-26 miliknya. Pembalap berusia 41 tahun itu tampil menjanjikan dengan start dari posisi keempat dan sempat berada di posisi ketiga sebelum insiden nahas terjadi.

Insiden bermula ketika Hamilton melaporkan lewat radio bahwa ia kehilangan rem. "Tidak ada rem," ujarnya singkat. Tak lama kemudian, ia dilewati oleh Max Verstappen dan rekan setimnya, Charles Leclerc, saat berjuang menjaga mobilnya agar tidak menabrak pembatas. Hamilton sempat melebar ke area escape road sebelum akhirnya masuk pit dan menghentikan balapan pada lap ketujuh.

Kegagalan rem ini tidak hanya merusak balapannya, tetapi juga mengakhiri rekor impresifnya sebagai satu-satunya pembalap yang menyelesaikan setiap lap balapan sepanjang musim 2026. Pencapaian tersebut menjadi bukti konsistensi dan ketangguhan Hamilton di lintasan, namun kini harus pupus di Madrid.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih dari itu, pensiunnya Hamilton menjadi pukulan telak bagi harapan gelarnya yang sudah mulai memudar. Sebelum balapan dimulai, ia tertinggal 76 poin dari pemimpin klasemen, Andrea Kimi Antonelli. Dengan hasil ini, jarak mereka dipastikan semakin melebar, dan peluang Hamilton untuk mengejar gelar semakin tipis.

Dalam wawancaranya dengan Sky Sports F1, Hamilton mengungkapkan detail masalah rem yang dialaminya. "Itu sudah terjadi sebelum pengereman ke Tikungan 5," jelasnya. "Saya menginjak rem, mobil mulai melambat, lalu pedal terasa mundur. Tiba-tiba mobil tidak melambat secepat biasanya, dan saya membawa kecepatan tinggi. Lalu saya menyenggol pembatas. Setelah itu, pedal kembali normal. Namun beberapa tikungan kemudian, pedal terasa lembut. Saya tidak tahu dari mana masalahnya, tapi kita lihat saja nanti."

Baca Juga Karun Chandhok: Kontrak Panjang Verstappen Bukti Keyakinan pada Red Bull

Kegagalan rem ini menambah daftar tantangan yang dihadapi Ferrari dan Hamilton musim ini. Meskipun performa mobil SF-26 menunjukkan peningkatan, masalah keandalan masih menjadi momok. Tim harus segera mencari akar permasalahan untuk menghindari insiden serupa di balapan berikutnya.

Bagi Hamilton, ini adalah pukulan mental yang berat. Namun, sebagai juara dunia tujuh kali, ia dikenal memiliki mentalitas juara. Ia pasti akan bangkit dan fokus pada balapan berikutnya. Sementara itu, para penggemar F1 di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, akan terus mengikuti perjalanan Hamilton dan tim-tim favorit mereka melalui Formula 1.