Oleh: Entis Sumantri  
Aktivis HMI & Sekretaris Umum DPD KNPI Kabupaten Pandeglang Periode 2025–2028

Pandeglang , Nusantara Media – Bayangkan jeritan anak-anak yang tenggelam dalam genangan air hitam pekat, rumah-rumah yang runtuh seperti kartu domino, dan mimpi-mimpi warga yang hanyut bersama arus deras. Banjir di Kabupaten Pandeglang bukan lagi sekadar bencana alam biasa; ini adalah mimpi buruk tahunan yang menghantui ribuan jiwa, mengubah surga tropis menjadi neraka banjir. Setiap musim hujan tiba – biasanya antara November hingga Maret – masyarakat di kecamatan seperti Majasari, Cisata, dan Carita harus berjuang melawan air bah yang tak kenal ampun. Tahun 2026 ini, dengan curah hujan ekstrem yang diprediksi meningkat akibat perubahan iklim, ancaman ini semakin mencekam.


Banjir tahunan di Pandeglang telah menjadi siklus kehancuran struktural yang berulang. Pada Januari 2026 saja, ratusan rumah terendam, ribuan hektar sawah rusak, dan aktivitas ekonomi lumpuh total. Kerugian mencapai miliaran rupiah, belum termasuk trauma psikologis yang diderita warga. Bukan hanya air yang menggenang; ini adalah banjir yang membawa lumpur, sampah, dan penyakit seperti demam berdarah serta leptospirosis, mengancam nyawa terutama anak-anak dan lansia.

Dari Masyarakat hingga Petinggi Negeri
Masyarakat Pandeglang, khususnya petani dan nelayan di daerah rawan, menjadi korban utama. Namun, pelakunya adalah ulah manusia: pembalak liar yang menebang hutan di lereng Gunung Karang, pengembang properti yang mengalihfungsikan lahan resapan air menjadi perumahan mewah, dan pemerintah daerah yang abai. Pemerintah Kabupaten Pandeglang di bawah Bupati saat ini, serta Gubernur Banten, harus bertanggung jawab atas kegagalan ini. Elemen sipil seperti HMI dan KNPI terus bersuara, tapi suara mereka seolah tenggelam dalam birokrasi yang lamban.

Musim Hujan yang Menjadi Kutukan
Setiap tahun, banjir melanda saat musim hujan puncak, terutama di akhir tahun hingga awal tahun baru. Di Pandeglang, wilayah paling parah adalah sepanjang Sungai Cadasari dan Ciliman, yang melintasi kecamatan-kecamatan pesisir dan pegunungan. Pada 2025 lalu, banjir besar menewaskan belasan orang dan mengungsi ribuan – pola yang berulang di 2026 ini, dengan prediksi curah hujan hingga 300 mm/hari.

Bukan Takdir, Tapi Kelalaian Manusia
Banjir bukan murni karena alam ganas; curah hujan tinggi hanyalah pemicu. Penyebab utama adalah ulah manusia: deforestasi massif yang menghilangkan 20% hutan Pandeglang dalam dekade terakhir, pendangkalan sungai akibat sedimentasi dari limbah industri, dan drainase kota yang tersumbat sampah plastik. Kebijakan pembangunan yang mengabaikan tata ruang wilayah – seperti izin bangunan di bantaran sungai – memperburuk situasi. Perubahan iklim global menambah api: suhu naik membuat hujan lebih ekstrem, tapi pemerintah gagal adaptasi.


Mitigasi banjir di Pandeglang masih lemah: normalisasi sungai hanya dilakukan sporadis, tanpa kajian ekologis mendalam. Pemerintah hadir hanya pasca-bencana, dengan bantuan darurat yang sementara. Yang dibutuhkan adalah revolusi: susun peta risiko banjir berbasis data satelit, bangun sistem peringatan dini berteknologi AI, rehabilitasi hutan dengan melibatkan masyarakat, dan tegas menertibkan pelanggar tata ruang. Kolaborasi antara Pemkab Pandeglang, Pemprov Banten, dan pusat harus ditingkatkan – sungai tak mengenal batas kabupaten!

Kegagalan ini bukan soal duit semata; anggaran APBD Pandeglang untuk mitigasi hanya 5% dari total, jauh di bawah standar nasional. Ini soal keberanian politik: hentikan korupsi infrastruktur, libatkan pemuda dan LSM dalam pengawasan, dan integrasikan lingkungan ke setiap kebijakan. Jika tidak, banjir akan terus menjadi monster yang memangsa generasi mendatang.

Jangan Biarkan Air Mata Mengalir Lagi
Sebagai aktivis pemuda, saya, Entis Sumantri, menyerukan: Banjir bukan takdir Tuhan, tapi cermin kegagalan kita sebagai khalifah di bumi. Pandeglang butuh aksi nyata, bukan janji manis. Mari bersatu – pemerintah, masyarakat, dan elemen sipil – untuk hentikan siklus penderitaan ini. Jika tidak, setiap tetes hujan akan menjadi air mata bagi ribuan warga.