Pandeglang, Nusantara Media – Hujan deras disertai banjir besar yang melanda kawasan Ciwandan, Kota Cilegon, Provinsi Banten, pada awal Januari 2026, telah menimbulkan dampak serius terhadap sektor pariwisata lokal, terutama di wilayah Carita. Periode libur panjang Tahun Baru yang seharusnya ramai pengunjung kini berubah menjadi suasana sepi di pantai-pantai populer seperti Lagundi, Pasir Putih, dan Karangsari. Lokasi-lokasi ini biasanya menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), dengan ribuan pengunjung setiap musim liburan.

Banjir ini dimulai pada Jumat, 2 Januari 2026, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis malam. Genangan air mencapai ketinggian hingga lutut orang dewasa di Jalan Raya Ciwandan-Anyar, merendam permukiman warga dan menutup akses utama menuju objek wisata Anyer-Carita. Akibatnya, banyak wisatawan terjebak di jalan atau terpaksa membatalkan rencana liburan mereka. Puluhan kendaraan mogok, termasuk beberapa mobil sedan yang hanyut karena nekat menerobos banjir, sehingga memerlukan evakuasi oleh petugas setempat.

Wisatawan dari Jakarta dan Bekasi menjadi kelompok paling terdampak, karena mereka biasanya memadati pantai-pantai tersebut selama libur panjang. Berdasarkan data dari Palang Merah Indonesia (PMI) Ciwandan, setidaknya 26 wisatawan dari luar Cilegon terjebak dan harus menginap darurat karena tidak bisa melanjutkan perjalanan. Sementara itu, pelaku usaha wisata lokal di sekitar Pantai Lagundi, Pasir Putih, dan Karangsari mengeluhkan penurunan drastis pengunjung—dari ribuan orang pada musim liburan sebelumnya menjadi hampir nol. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah per hari bagi pedagang makanan, penyedia akomodasi, dan jasa transportasi.

Pusat kejadian berada di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, khususnya di Jalur Lingkar Selatan (JLS) dan Jalan Raya Anyar-Cilegon. Kawasan ini merupakan pintu gerbang utama menuju pantai-pantai wisata di Carita, sehingga penutupan jalan akibat banjir langsung memutus akses bagi kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain itu, banjir juga memengaruhi kawasan industri di sekitar Ciwandan, yang semakin memperburuk lalu lintas.

Penyebab utama banjir adalah hujan deras yang berkepanjangan, ditambah dengan sistem drainase yang buruk di kawasan industri Ciwandan serta pengaruh pasang air laut (rob). Warga setempat menyalahkan pemerintah daerah dan perusahaan industri karena kurangnya perawatan infrastruktur, yang membuat banjir menjadi masalah tahunan. Aktivitas industri seperti pengerukan lahan dan pembangunan pabrik turut memperburuk kondisi drainase, sebagaimana sering dibahas dalam forum komunitas wisata Banten. Selain itu, faktor perubahan iklim global juga diduga berkontribusi terhadap intensitas hujan yang semakin ekstrem.

Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, kepolisian, dan PMI terus melakukan evakuasi serta pemantauan situasi. Mereka menyarankan pengguna jalan untuk menghindari rute tersebut dan menggunakan alternatif seperti Jalan Raya Serang-Cilegon jika memungkinkan. Wisatawan diimbau untuk mencari rute lain, menunda kunjungan, atau memantau update cuaca melalui aplikasi resmi hingga banjir surut sepenuhnya.

Hingga Sabtu, 3 Januari 2026, hujan masih berpotensi turun di wilayah Banten, sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan.