Formula 1 kembali menghadirkan drama di luar lintasan setelah Lewis Hamilton harus puas finis di posisi keenam pada Grand Prix Singapura di Sirkuit Marina Bay. Pembalap asal Inggris tersebut kehilangan tiga posisi dari tempatnya memulai balapan setelah mengambil kendali penuh atas strategi ban yang ternyata berujung pada blunder fatal. Keputusan krusial untuk tetap berada di lintasan saat Virtual Safety Car berlangsung, sementara sebagian besar pembalap lain termasuk rekan setimnya melakukan pit stop, membuat sang juara dunia tujuh kali menjadi sasaran empuk bagi para pesaing di belakangnya.

Menjelang fase akhir balapan, posisi juara dunia tersebut semakin tertekan hingga akhirnya harus rela disalip oleh Lando Norris dan Andrea Kimi Antonelli. Mantan pebalap W Series sekaligus pandit F1, Naomi Schiff, memberikan spekulasi tajam bahwa keputusan mandiri yang diambil oleh Hamilton lahir dari memudarnya rasa percaya terhadap kubu Ferrari dalam membaca situasi balapan yang rumit. Menurutnya, pengalaman buruk pada balapan-balapan sebelumnya telah menciptakan ketidakpastian internal yang mendorong sang pebalap untuk mengambil alih komando strategi demi mengamankan posisi lintasannya di depan sang rekan setim.

Dalam komentarnya kepada media seusai balapan, Naomi Schiff menjelaskan pandangannya secara mendalam mengenai dinamika yang terjadi di garasi tim berlogo Kuda Jingkrak tersebut. Ia menyatakan bahwa tindakan sang pebalap untuk mengambil keputusan sendiri bukanlah sebuah kejutan besar mengingat inkonsistensi yang pernah terjadi sebelumnya. Saya tidak begitu terkejut, saya pikir mereka semacam kehilangan kepercayaan satu sama lain dalam membuat keputusan yang tepat di situasi tertentu, ujar Naomi Schiff saat menganalisis jalannya balapan akhir pekan lalu.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih lanjut, sang pengamat menambahkan bahwa rentetan keputusan yang kurang optimal pada pekan-pekan sebelumnya membuat pebalap andalan mereka merasa perlu mempertanyakan setiap langkah taktis yang dirancang oleh pit wall. Apakah Anda menyalahkan Lewis hari ini? Ya, mungkin dia membuat keputusan yang salah, tetapi apakah Anda menyalahkan tim pekan lalu? Ya, mereka membuat keputusan yang salah saat itu. Jadi saya mengerti mengapa Lewis menantang mereka karena dia tidak selalu yakin bahwa mereka akan membuat keputusan yang tepat, tambahnya menegaskan situasi psikologis di dalam tim.

Baca Juga Sidang Banding McLaren dan Red Bull di GP Monako Digelar 25 Agustus

Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh mantan juara dunia F1 musim 2009, Jenson Button, yang melihat insiden tersebut bukan sebagai krisis kepercayaan, melainkan sebuah perjudian taktis berani yang sayangnya mengalami kegagalan eksekusi. Jenson Button meyakini bahwa sang pebalap senior hanya ingin mengambil inisiatif demi memaksimalkan potensi laju kendaraannya di atas kompon ban lunak dan berupaya keluar dari bayang-bayang rekan setimnya tanpa ada maksud meragukan kapabilitas tim secara menyeluruh.

Meskipun strategi tersebut gagal total di atas lintasan Marina Bay, sikap besar jiwa yang ditunjukkan oleh sang bintang utama pasca balapan mendapatkan apresiasi luas dari berbagai pihak. Keputusannya untuk langsung menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh anggota tim saat putaran pendinginan mendapat tanggapan positif, termasuk dari pimpinan tim Fred Vasseur, yang membenarkan bahwa sang pebalap mengambil kepemilikan penuh atas jalannya strategi kontroversial tersebut demi menjaga keharmonisan internal tim secara jangka panjang.