Pecco Bagnaia mengungkapkan bahwa dirinya tidak merasa terkejut ketika mengalami kecelakaan pada balapan utama Grand Prix Indonesia hari Minggu lalu di Sirkuit Mandalika. Sang pembalap pabrikan asal Italia tersebut menjelaskan bahwa kemunduran teknis yang dialami oleh motornya dalam dua tahun terakhir menjadi sangat terasa di lintasan tersebut, terutama ketika membutuhkan kecepatan tinggi dan cengkeraman ban yang optimal.

Sebelum insiden tersebut terjadi, akhir pekan di Mandalika sempat memperlihatkan secercah harapan bagi sang juara dunia setelah ia berhasil lolos langsung ke sesi Q2 untuk pertama kalinya sejak Grand Prix Belanda pada bulan Juni lalu. Namun, performa tersebut gagal diterjemahkan menjadi hasil maksimal setelah ia hanya mampu finis di posisi kedelapan dalam sesi sprint race sehari sebelumnya, sebelum akhirnya harus tersingkir dari balapan utama pada lap keenam.

Menjelaskan jalannya insiden kepada awak media termasuk Crash.net, pembalap andalan Ducati itu mengakui bahwa motornya sama sekali tidak memberikan respons yang diharapkan di atas lintasan. Bagnaia menyatakan bahwa ia sama sekali tidak memiliki cengkeraman maupun cam sensasi berkendara yang layak, sehingga kecelakaan terjadi begitu saja akibat batas kemampuan motor yang telah terlampaui saat ia mencoba mengejar ketertinggalan.

- Advertisement -
Advertisement

"Saya hanya mengalami kecelakaan," ujar Bagnaia kepada media, termasuk Crash, pada hari Minggu lalu. "Tidak ada cengkeraman, tidak ada sensasi, dan saya hanya terjatuh. Sangat mudah. Saya tidak terkejut. Saya lambat, dan saya mencoba mengejar Luca untuk menaikkan tekanan ban depan. Tetapi saya meminta terlalu banyak dari motor saya pada saat itu; motor itu tidak mendukung saya. Dan saya terjatuh."

Masalah utama yang dikeluhkan oleh sang pembalap berkaitan erat dengan hilangnya koneksi yang baik antara bukaan gas dan tenaga yang disalurkan ke roda belakang. Dalam wawancaranya dengan Sky Italy, ia menegaskan bahwa problem cengkeraman belakang yang selama ini menghantuinya terasa jauh lebih buruk di Mandalika dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Baca Juga Kesalahan Strategi GP Singapura Runtuhkan Peluang Podium Hamilton

"Ya, sayangnya, langkah mundur yang telah kami ambil dalam dua tahun terakhir sangat terasa di trek ini, di mana Anda membutuhkan kecepatan dan cengkeraman," tambahnya. "Kami tidak lagi memiliki banyak koneksi dengan gas, dan di trek seperti ini, hal itu benar-benar terlihat, sayang sekali. Dalam kasus saya, ini adalah masalah kurangnya cengkeraman. Saya tidak tahu tentang yang lain, tetapi secara umum, ini adalah trek di mana cengkeraman tidak berada dalam kondisi terbaiknya, terutama dengan ban seperti ini."

Akhir pekan di Indonesia sendiri memang menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh jajaran pembalap Ducati di lintasan. Meskipun Marc Marquez mampu keluar sebagai pembalap pabrikan Borgo Panigale dengan posisi finis tertinggi di peringkat keenam pada balapan utama serta memenangkan sesi sprint yang dramatis, masalah teknis secara keseluruhan tetap menjadi pekerjaan rumah yang besar. Di sisi lain, kilau kecepatan sempat ditunjukkan oleh pembalap lain seperti Fabio Di Giannantonio yang sukses merebut posisi ketiga dalam sesi kualifikasi.