Alex Marquez mengungkapkan kekecewaannya setelah mengalami crash di MotoGP Austria, menyebut bahwa motor Ducati yang ia tunggangi "tidak seperti yang kita kenal". Pembalap Gresini Racing itu terjatuh di tikungan 2a saat sedang berduel dengan Raul Fernandez, menambah derita Ducati yang untuk pertama kalinya sejak 2016 tidak menempatkan satu pun pembalap di podium di Red Bull Ring.

Red Bull Ring selama ini menjadi benteng Ducati. Sejak sirkuit ini masuk kalender MotoGP pada 2016, pabrikan Bologna hanya dua kali kalah sebelum tahun ini, dengan kekalahan terakhir terjadi pada kondisi campuran di Styrian GP 2021. Namun, tahun ini Aprilia mendominasi: Jorge Martin menang Sprint, sementara balapan utama direbut Martin, Marco Bezzecchi, dan Ai Ogura, plus Pedro Acosta dari KTM yang meraih kemenangan perdananya. Melihat tidak ada Ducati di podium, Marquez pun terkejut, meski ia merasa hasil itu mencerminkan realitas akhir pekan.
"Jujur, cukup terkejut menderita seperti ini di sini," ujar Marquez usai balapan. "Tapi sejak FP1, kami sudah melihat apa yang terjadi. Sesuatu yang sangat aneh. Motor tidak seperti yang kami kenal. Berubah banyak dengan casing – hal yang sama juga terjadi pada kami di Thailand. Kami tidak bisa memanfaatkan grip dari ban belakang, dan kami kehilangan banyak di bagian traksi."
Masalah ban belakang ini menjadi sorotan. Konstruksi ban belakang yang digunakan di Austria akan kembali dipakai pada Grand Prix Indonesia pada Oktober mendatang. Marquez pun memprediksi tantangan serupa akan dihadapi Ducati di Sirkuit Mandalika. "Mirip," katanya. "Dan di sana, tingkat grip dari layout juga lebih tinggi dari sini. Jadi, akan seperti ini. Tahun lalu, Fermin [Aldeguer] menang, saya di podium, jadi berharap bisa bagus di sana dan tidak terlalu menderita. Tapi di sana, Aprilia tahun lalu sudah terbang, terutama Bezzecchi. Jadi akan sulit, tapi kami akan berusaha maksimal, dan pasti Ducati akan bekerja keras."
Balapan Marquez di Austria berakhir lebih awal. Startnya sebenarnya bagus, tetapi ia kehilangan banyak posisi di tikungan pertama. Ia sempat mendapat peringatan suhu rem dan mesin yang panas, namun crash terjadi karena kesalahannya sendiri. "Saya kehilangan banyak posisi di lap pertama," kenangnya. "Start tidak buruk, tapi kemudian saya tidak cukup menyerang di tikungan pertama. Saya ada di tengah, bertarung, dan kehilangan banyak posisi. Saya melewati garis start-finish di posisi 14, saya pikir. Saya mendapat alarm rem panas, mesin panas, semuanya, tapi saya berkata 'Oke, saya coba, saya di posisi 14, 13, jadi tidak akan rugi banyak jika crash'. Saat itu saya mulai menyerang, dan kemudian duel dengan Raul. Kami sejajar, saya sedikit di zona kotor, lalu kehilangan depan, tapi tidak ada yang bisa dikatakan. Hanya minta maaf kepada tim karena saya melakukan terlalu banyak kesalahan akhir pekan ini, dan saya tidak bisa mengatasi masalah yang kami hadapi pada Ducati."
Baca Juga MotoGP Tetap Ngotot ke Qatar, Keputusan Krusial SegeraKegagalan Ducati di Austria juga menyoroti performa Aprilia yang semakin kompetitif. Dengan tiga pembalap di depan, Aprilia menunjukkan bahwa mereka kini menjadi ancaman serius, terutama di sirkuit dengan karakteristik grip rendah. Sementara itu, KTM juga meraih kemenangan pertama melalui Acosta, menandakan persaingan di MotoGP semakin ketat. Bagi Ducati, hasil ini menjadi pukulan telak mengingat dominasi mereka dalam beberapa tahun terakhir.
Marquez sendiri mengakui bahwa ia harus belajar dari kesalahan dan bangkit untuk balapan berikutnya. Meski demikian, ia tetap optimistis bahwa Ducati akan bekerja keras untuk mengatasi masalah ban dan performa. "Saya hanya ingin melupakan akhir pekan ini dan fokus ke depan," pungkasnya. Dengan sirkuit-sirkuit yang akan datang memiliki karakteristik berbeda, adaptasi menjadi kunci bagi Ducati untuk kembali ke jalur kemenangan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!