KUALA LUMPUR,  Nusantara Media — Di tengah hiruk-pikuk megahnya Kota Metropolitan Kuala Lumpur, sebuah drama kemanusiaan yang mengoyak hati tengah berlangsung di balik dinding putih rumah sakit.

Sumiyati (47), seorang wanita warga negara Indonesia (WNI) yang merantau demi mencari secercah harapan hidup, kini harus menghadapi kenyataan paling kelam dalam hidupnya.

Terlantar seorang diri tanpa sanak saudara di negeri orang, ia kini berjuang melawan sisa-sisa kesakitan akibat serangan strok berat yang melumpuhkan separuh tubuhnya.

- Advertisement -
Advertisement

Kisah pilu Sumiyati seketika mencuat dan mengguncang lini masa media sosial pada awal Oktober 2026. Semua bermula dari kepedulian mendalam seorang warga setempat bernama Umi.

Tanpa ikatan darah maupun kewarganegaraan yang sama, Umi terketuk hatinya untuk mengambil alih seluruh pengurusan rumah sakit, memastikan Sumiyati mendapatkan penanganan medis darurat demi menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman maut. Terkurung di Ruang Perawatan: Lumpuh, Sendiri, dan Bergantung pada Selang Makanan

Saat ini, Sumiyati tengah menjalani perawatan intensif di Hospital Tengku Ampuan Rahimah (HTAR), Klang, Selangor, Malaysia. Serangan strok yang menghantam bagian otak kirinya telah meninggalkan luka permanen, mengakibatkan kelumpuhan total pada sisi kanan tubuhnya.

Bahkan, untuk sekadar bertahan hidup dan mendapatkan asupan nutrisi sehari-hari, wanita paruh baya ini harus bergantung sepenuhnya pada selang makanan (feeding tube). Kondisi medisnya kini telah stabil, namun masa depannya justru berada di ujung tanduk.

Ia membutuhkan perawatan lanjutan, pengawasan medis yang ketat, serta fisioterapi intensif agar memiliki peluang untuk pulih. Ironisnya, ia harus menghadapi semua itu dalam kesendirian yang mencekam.

Cobaan hidup Sumiyati tidak berhenti pada penderitaan fisik semata. Sebagai janda dari seorang lelaki warga negara Malaysia yang telah meninggal dunia beberapa tahun lalu, ia dihadapkan pada tembok birokrasi yang tinggi.

Masalah status visa dan dokumen tinggal yang kadaluarsa atau bermasalah menjadi duri dalam daging bagi keselamatannya di Malaysia pasca-keluar dari rumah sakit nanti.

Baca Juga Tragedi Adu Banteng Dua Motor di Brebes, Satu Korban Kritis

Terdapat hak-hak finansial penting yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya, termasuk klaim PERKESO (Pertubuhan Keselamatan Sosial). Ironisnya, dana tersebut kini terancam dan rentan terhadap potensi penyalahgunaan oleh pihak ketiga akibat ketiadaan pendamping hukum resmi.

Melihat kondisi Sumiyati yang semakin mengkhawatirkan, Umi bersama jaringan komunitas lokal di Malaysia tidak tinggal diam. Gelombang desakan kini diarahkan secara masif kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia agar segera turun tangan memberikan perlindungan konsular secara nyata.

Komunitas mendesak agar KBRI segera mengambil langkah taktis, meliputi:

1. Pelacakan Keluarga di Tanah Air: Menemukan sanak saudara kandung Sumiyati di Indonesia agar ia bisa segera dipulangkan atau mendapatkan kepastian dukungan keluarga.

2. Penyelesaian Dokumen: Membantu membereskan persoalan keimigrasian dan hukum yang melilitnya.

3. Penyediaan Tempat Perlindungan (Shelter): Memastikan Sumiyati mendapatkan pusat penjagaan atau tempat bernaung yang aman setibanya ia keluar dari HTAR Klang.

Kisah Sumiyati adalah potret nyata tentang betapa rapuhnya nasib pahlawan devisa atau perantau di negeri orang saat musibah tak diundang datang merenggut segalanya. Publik kini menanti langkah cepat dan kepedulian nyata dari perwakilan negara di Malaysia.

Akankah uluran tangan negara segera tiba sebelum semuanya terlambat bagi Sumiyati?