Pedro Acosta menegaskan bahwa ia tidak memiliki teman di paddock MotoGP. Sikap ini justru membuatnya nyaman karena ia bisa menyalip rival tanpa ragu-ragu. Pembalap asal Spanyol itu akan meninggalkan KTM untuk bergabung dengan Ducati pabrikan musim depan, berpasangan dengan juara bertahan Marc Marquez.

Meski mengakui bahwa sebagian besar pembalap mudah diajak bicara, Acosta menegaskan bahwa pada akhirnya hanya satu yang bisa menang. Ia mencontohkan rivalitas sengit masa lalu seperti Valentino Rossi melawan Sete Gibernau, atau Mick Doohan dengan Alex Criville, yang menurutnya seharusnya menjadi norma.

“Untungnya di MotoGP, hampir semua pembalap mudah untuk diajak bicara, mudah untuk menjalin hubungan,” kata Acosta kepada Motorsport.com. “Tetapi pada akhirnya, semua orang di sini untuk meraih mimpi yang sama. Dan cukup sulit, menurut saya, untuk memiliki hubungan yang jujur dengan seseorang yang menginginkan hal yang persis sama dengan Anda. Sejujurnya, mungkin saya lebih memilih mundur selangkah dan tidak memiliki hubungan apa pun.”

- Advertisement -
Advertisement

Ia menambahkan, “Saya merasa sejak hari pertama, saya tidak punya teman di paddock. Tapi saya bahagia karena dengan begitu saya tidak punya perasaan kepada siapa pun. Saya tidak peduli siapa yang saya lewati atau dengan cara apa saya menyalip. Jika Anda berpikir tentang masa lalu, semua hubungan seperti itu. Ingat Sete dengan Valentino, atau Criville dengan Doohan, itu bukan hubungan yang mudah. Mungkin ini juga bagian yang menarik yang sekarang hilang di MotoGP.”

Baca Juga Ai Ogura Wajib Belajar Agresi demi Gelar MotoGP 2026

Acosta, yang meraih kemenangan Sprint pertamanya tahun ini tetapi masih mencari kemenangan MotoGP pertamanya setelah dua setengah musim, memulai sepuluh putaran terakhir kariernya bersama KTM dengan berada di posisi ketujuh klasemen dunia. Kepindahannya ke Ducati menjadi salah satu berita terbesar musim ini, dan pernyataannya ini menunjukkan kesiapannya menghadapi persaingan ketat, termasuk dengan rekan setimnya nanti.