Lando Norris kembali membuktikan bahwa McLaren tidak sedang bercanda. Pebalap asal Inggris itu meraih kemenangan keduanya secara beruntun di GP Belanda, sekaligus menegaskan laju peningkatan performa timnya yang tengah on fire. Namun di sisi lain, Andrea Kimi Antonelli juga tampil garang dengan finis kedua, menjaga jarak aman di puncak klasemen.

Balapan di Zandvoort menyajikan drama sejak awal, terutama saat start ulang yang kacau. Norris kehilangan posisi terdepan dari Antonelli, namun dengan ban lunak ia mampu terus menempel. Ketika para pebalap depan beralih ke ban keras, Norris berubah menjadi predator sejati. Pada lap ke-54, ia berani mengambil risiko melewati Antonelli di luar jalur di Tikungan 1, lalu menyalip Lewis Hamilton yang belum pit stop di lintasan lurus. Setelah itu, tidak ada yang bisa menghentikannya hingga finis.

Kemenangan ini memangkas jarak Norris dengan Antonelli menjadi 83 poin, dari sebelumnya 90. Meski selisih itu masih sangat besar, performa Norris yang impresif dan perkembangan mobil McLaren yang terus berjalan membuat kejuaraan ini kembali menarik untuk disimak. Pertanyaannya, kapan Mercedes bisa merespons dengan paket upgrade andalan mereka?

- Advertisement -
Advertisement

Lawson Manfaatkan Peluang Emas

Kembalinya Liam Lawson ke Red Bull jelas bukan kebetulan. Setelah kehilangan kursi tahun lalu, ia membangun reputasinya di Racing Bulls dan kini mendapat kesempatan keduanya setelah Isack Hadjar cedera. Lawson tampil tenang pada Jumat, lalu melesat pada kualifikasi dengan mengamankan posisi kedelapan, hanya 0,115 detik di belakang Verstappen. Ini pencapaian yang luar biasa mengingat keterbatasan mobil Red Bull musim ini. Ketika Verstappen crash di awal balapan, Lawson menjadi ujung tombak tim dan berhasil finis dengan solid, menunjukkan bahwa ia layak diperhitungkan.

Baca Juga Sidang Banding McLaren dan Red Bull di GP Monako Digelar 25 Agustus

Strategi Ban Jadi Kunci

GP Belanda kembali menegaskan pentingnya strategi ban. Pilihan ban lunak di awal memberikan keuntungan bagi Norris untuk bertarung, sementara mereka yang memilih ban medium harus bersabar. Keputusan McLaren untuk beralih ke ban keras lebih awal terbukti jitu, memungkinkan Norris menekan Antonelli di tahap akhir. Di sisi lain, Mercedes justru kebingungan dengan degradasi ban yang tinggi, membuat Hamilton dan Russell kesulitan mempertahankan posisi. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim pabrikan Jerman tersebut.

Dengan hasil ini, Norris menegaskan diri sebagai penantang serius gelar, sementara McLaren mulai menunjukkan konsistensi yang selama ini sulit mereka wujudkan. Antonelli tetap tenang di puncak, tetapi tekanan mulai terasa. Balapan berikutnya akan menjadi ujian apakah Mercedes bisa bangkit atau justru semakin tertinggal.