Sesi kualifikasi Formula 1 Grand Prix Brasil di Sao Paulo berubah secara dramatis dari pagi yang hangat menjadi trek basah kuyup yang memaksa para pembalap menghadapi salah satu kondisi terbasah sepanjang karier balap mereka. Penundaan akibat hujan lebat berlangsung selama satu jam 23 menit, membuat suasana paddock sempat diliputi ketidakpastian apakah sesi dapat dilanjutkan pada hari yang sama atau harus ditunda ke hari Minggu seperti tahun sebelumnya.
Beruntung, celah di antara awan akhirnya muncul dan sirkuit mengering cukup bagi mobil keselamatan yang dikemudikan oleh Bernd Maylander untuk melakukan inspeksi kelayakan lintasan. Keputusan melanjutkan sesi ini sempat memicu keluhan soal jarak pandang dari beberapa pembalap, namun mereka segera menyadari perlunya fokus penuh demi menaklukkan tantangan aspal Sao Paulo yang terendam air.
Situasi pelik ini memaksa penggunaan ban full-wet atau yang dikenal dalam leksikon F1 sebagai ban hujan ekstrem berpita biru dari Pirelli. Meskipun ban ini kerap diremehkan dan dianggap hanya layak dipakai di belakang mobil keselamatan, ban tersebut bekerja sangat baik dalam membuang genangan air. Gejala aquaplaning, di mana ban kesulitan menembus lapisan air di permukaan aspal, tetap tak terhindarkan pada fase awal sebelum lintasan berangsur membaik.
Carlos Sainz, pembalap yang kini membela Williams, menilai keputusan Race Control untuk membuka kembali pit lane sebagai langkah yang sangat berani atau 'punchy'. Menurutnya, pada awal sesi di atas ban basah ekstrem, mobil mengalami aquaplaning bahkan pada gigi enam dan tujuh di lintasan lurus, menciptakan risiko kecelakaan besar jika kehilangan kendali di kecepatan tinggi.
Baca Juga Cuaca Panas dan Terik Sambut Balapan F1 GP Amerika Serikat di AustinSisi dilematis dari ban hujan ekstrem adalah kapasitas pembuangan airnya yang masif, mencapai sekitar 85 liter per detik menurut data Pirelli. Daya gusur air yang besar ini memang krusial untuk mengeringkan lintasan, namun di sisi lain menciptakan semprotan air pekat yang drastis memangkas visibilitas pembalap di belakangnya, memaksa mereka mencari titik acuan pengereman baru secara visual demi keselamatan.

Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!