Cuaca diprediksi akan menjadi variabel penentu utama dalam jalannya balapan GP San Paolo di Sirkuit Interlagos, di mana suhu lintasan yang rendah menghadirkan tantangan unik yang belum pernah dihadapi sepanjang akhir pekan ini. Meskipun ancaman hujan tetap mengintai, kondisi trek yang kering di bawah suhu dingin tetap menuntut pendekatan strategis yang matang dari setiap tim peserta. Berdasarkan analisis resmi dari pabrikan ban asal Italia, strategi optimal di atas kertas untuk balapan kali ini adalah menggunakan skema dua kali masuk pit atau dua kali berhenti, sebuah opsi yang juga berlaku bagi para pembalap yang harus memulai lomba dari posisi buncit.

Menjelang dimulainya balapan utama, kondisi permukaan lintasan terpantau masih lembap dengan temperatur aspal yang berada di angka 20 derajat Celsius, sementara suhu udara tercatat hanya 16 derajat Celsius. Situasi termal yang cukup dingin ini membuat pihak pemasok ban meyakini bahwa opsi menggunakan kompon keras atau hard akan dikesampingkan oleh sebagian besar kontestan. Kepala Teknisi Pirelli, Simone Berra, menjelaskan bahwa tim-tim kemungkinan besar akan lebih memprioritaskan penggunaan kompon yang lebih lunak demi mendapatkan performa optimal sejak awal.

Menurut penjelasan lebih lanjut dari Simone Berra, karakteristik Sirkuit Interlagos yang sangat mendukung aksi salip-menyalip membuat keuntungan posisi start menjadi tidak terlalu krusial dibanding trek lain, sehingga membuka peluang bagi tim untuk mengambil risiko strategis yang agresif. Skenario tercepat yang direkomendasikan adalah memulai balapan dengan ban lunak atau soft, kemudian beralih ke kompon medium pada stint kedua, dan menutup balapan dengan kembali menggunakan ban lunak. Alternatif lain seperti menggunakan ketiga jenis kompon atau memadukan soft-hard-soft sebenarnya tersedia, namun diprediksi lebih lambat sekitar empat hingga lima detik.

- Advertisement -
Advertisement

Penggunaan kompon keras sendiri dinilai tidak memberikan keuntungan signifikan dalam hal daya tahan, terutama karena suhu lintasan yang rendah dapat menyulitkan ban tersebut untuk mencapai serta mempertahankan jendela suhu kerja idealnya. Kurangnya cengkeraman atau grip pada kompon keras berpotensi memicu masalah sliding yang membuat performanya menjadi kurang konsisten dibandingkan kompon medium maupun soft. Faktor keselamatan dan kemudahan mengontrol degradasi ban belakang juga menjadi alasan utama mengapa kompon lunak jauh lebih disukai oleh para teknisi di dalam paddock.

Baca Juga Williams Kunci Masa Depan Albon dengan Perpanjangan Kontrak Rekor

Kendati demikian, penurunan tingkat degradasi termal akibat suhu udara yang dingin membuka celah tipis bagi kemungkinan penerapan strategi satu kali pit stop, meskipun opsi tersebut diperkirakan jauh lebih lambat sekitar tujuh hingga delapan detik secara keseluruhan. Tim-tim papan atas seperti Max Verstappen bersama skuad Ferrari diprediksi harus meracik strategi yang sangat cermat untuk membaca situasi trek yang dinamis ini guna mengamankan hasil terbaik di garis finis.