Keputusan karier yang diambil oleh Daniel Ricciardo pada pertengahan musim 2018 silam hingga kini masih menyisakan perdebatan panjang di kalangan pencinta ajang balap jet darat Formula 1. Pada bulan Juli 2018, pembalap asal Australia tersebut merupakan salah satu figur paling diperhitungkan di dalam paddock berkat performa kompetitifnya bersama tim Red Bull Racing. Selama satu dekade, ia telah menjadi bagian penting dari keluarga besar skuad Milton Keynes tersebut sejak masa awal karier juniornya, bahkan menjadi ujung tombak ambisi juara dunia pabrikan minuman berenergi itu di kancah internasional.

Namun, dinamika berubah drastis ketika Cyril Abiteboul datang membawa tawaran kontrak menggiurkan dari pabrikan asal Prancis, Renault F1 Team. Meskipun baru saja mengamankan dua kemenangan Grand Prix sensasional pada paruh pertama musim 2018 sementara mobil kuning pabrikan Prancis tersebut kesulitan menembus posisi lima besar, Ricciardo secara mengejutkan memilih mengambil perjudian besar dalam kariernya untuk hengkang. Langkah berani ini didasari oleh kejenuhan internal dan keinginan kuat untuk mencari tantangan baru setelah merasa terlalu nyaman berada di lingkungan Red Bull selama bertahun-tahun.

Sayangnya, pertaruhan besar tersebut berbuah hasil yang jauh dari harapan. Selama musim kompetisi 2019 bersama skuad pabrikan Prancis, ia gagal meraih satu pun podium, sementara posisi tim dikalahkan oleh McLaren di klasemen akhir konstruktor. Situasi pelik ini mendorongnya untuk kembali mengambil langkah cepat dengan menandatangani kontrak bersama McLaren untuk musim 2021 bahkan sebelum kalender balap tahun 2020 dimulai akibat tertundanya jadwal karena pandemi COVID-19. Perjalanannya di Woking juga tidak berjalan mulus selain kemenangan mengejutkan di Grand Prix Italia 2021, hingga kontraknya harus diputus lebih awal dan digantikan oleh kompatriot mudanya, Oscar Piastri.

- Advertisement -
Advertisement

Di sisi lain, mantan rekan setimnya, Max Verstappen, terus menjelma menjadi kekuatan dominan yang tak terhentikan di bawah naungan Red Bull. Verstappen sukses merengkuh empat gelar juara dunia secara beruntun dengan menggunakan skuad yang justru ditinggalkan oleh Ricciardo atas kemauannya sendiri bertahun-tahun lalu. Kontras tajam antara trajektori karier kedua pembalap ini sering kali memicu pertanyaan mendalam mengenai apa yang mungkin terjadi seandainya sang pembalap berjuluk Honey Badger tersebut memilih untuk bertahan di tim yang sama.

Baca Juga Evolusi Pusat Kendali F1: Menengok Kecanggihan ROC 3.0

Ketika berbicara dalam siniar Beyond The Grid setelah delapan tahun berlalu, Ricciardo akhirnya membuka suara secara jujur mengenai penyesalan dalam perjalanan kariernya. Mengenai pertanyaan apakah ia menyesali keputusannya meninggalkan Red Bull, ia memberikan refleksi mendalam. 'Saya masih tidak tahu bagaimana harus menjawabnya, karena saya tentu tidak ingin mengatakan, 'Oh, ya, saya pasti sudah menjadi juara dunia jika saya bertahan', karena itu bukan realitas yang dijalani. Max telah membuktikan dirinya sebagai salah yang terbaik, jadi saya tidak ingin mengabaikannya begitu saja,' ungkap sang pembalap.

Ia menambahkan bahwa mengalahkan Verstappen bukanlah tugas yang mudah dan tidak adil untuk meremehkan pencapaian pembalap asal Belanda tersebut. Meskipun mengakui bahwa keputusan masa lalunya adalah sebuah langkah liar yang sarat emosi dan kebutuhan untuk keluar dari zona nyaman, ia tidak menampik sisi lain dari pemikirannya. 'Jika saya harus menjawabnya secara singkat, ya, saya berharap saya bertahan, tetapi... saya tidak tahu, pada saat itu saya pergi karena saya merasa mulai sedikit nyaman, sedikit berpuas diri,' pungkasnya menutup refleksi masa lalu.