Manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, memberikan pengakuan luar biasa kepada Marc Marquez usai meraih kemenangan gemilang dalam balapan Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang. Penampilan dominan pembalap asal Spanyol berusia 33 tahun ini tidak hanya memperkokoh posisinya di puncak klasemen sementara, tetapi juga memicu pujian bahwa ia adalah salah satu pembalap terhebat sepanjang masa dalam sejarah kejuaraan dunia balap motor.

Memulai balapan dari posisi kedua di grid, Marquez langsung melakukan gebrakan krusial dengan merebut posisi terdepan dari pemegang pole Alex Marquez saat memasuki Tikungan 1 pada awal balapan yang berlangsung sepanjang 20 putaran tersebut. Meskipun sempat mendapat tekanan awal di Tikungan 4, ia berhasil mempertahankan posisinya dengan tenang dan terus memperlebar jarak hingga keunggulan lebih dari empat detik atas para pesaingnya di belakang.

Kemenangan dominan di Sepang ini menandai podium tertinggi ketujuh bagi Marquez sepanjang musim balap ini. Hasil tersebut membawanya mengantongi keunggulan 44 poin di puncak klasemen sementara, menempatkannya di ambang peluang emas untuk mengunci gelar juara dunia MotoGP kedelapan kalinya pada seri berikutnya di Qatar pekan depan, asalkan ia mampu memperlebar selisih poin menjadi 74 angka.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam komentarnya kepada media, Davide Tardozzi menyoroti kecerdasan dan kemampuan manajemen ban yang luar biasa dari sang pembalap andalannya sepanjang balapan. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap mentalitas kerja sama dan dorongan moral yang diberikan oleh Marquez kepada para teknisi di garasi tim, termasuk Direktur Umum Gigi Dall'Igna, untuk terus percaya dan mendorong batas kemampuan motor.

"Saya pikir bahwa Marc melakukan balapan yang fantastis; dia begitu cerdas sejak awal. Dia cepat, dia mengelola ban belakang dengan cara yang sempurna," ujar Tardozzi mengenai performa anak asuhnya di Sepang, sebagaimana dikutip dari siaran resmi MotoGP.

Lebih lanjut, Tardozzi menegaskan kontribusi besar sang juara dunia dalam mengangkat motivasi seluruh anggota skuad Borgo Panigale. "Kita tahu kepala Marc, kita tahu bagaimana dia percaya, bagaimana dia mendorong kami, tim, untuk mempercayainya. Dia adalah yang pertama, dan Gigi serta para insinyur melakukan hal yang sama. Dan saya pikir itulah hal yang paling penting - seberapa dekat pembalap dengan tim," tambahnya.

Persaingan perebutan gelar juara dunia musim ini juga diwarnai oleh drama di kubu rival. Pesaing terdekatnya, Jorge Martin, terpaksa harus absen dan mundur dari Grand Prix Malaysia setelah mengalami cedera patah pergelangan tangan pada akhir pekan sebelumnya di Phillip Island, Australia.

Baca Juga Moto2 Jerman 2025: Deniz Oncu Juara Usai Red Flag

Sementara itu, rekan setim Aprilia, Marco Bezzecchi, gagal mengimbangi kecepatan impresif Marquez akhir pekan ini. Sebuah kesalahan kecil menjelang akhir balapan membuat pembalap asal Italia tersebut harus puas finis di posisi kelima, yang kini membuatnya tertinggal 67 poin dari puncak klasemen.

Menanggapi performa sempurnanya dan peluang besar yang ada di depan mata, Marc Marquez tetap memilih untuk membumi dan menjaga fokus penuh. Ia menegaskan bahwa mentalitasnya tidak boleh berubah menjelang fase akhir musim yang krusial ini.

"Maksud saya, ketika saatnya tiba, itu adalah saatnya, dan Anda harus melakukannya. Saya sangat konsentrasi selama akhir pekan ini; di FP1, saya langsung keluar seperti melakukan time attack. Dan kemudian saya mencoba untuk menemukan batas dalam latihan, karena sudah waktunya untuk mengambil risiko. Kami melakukannya dan kami melakukan balapan yang sempurna. Jadi, sangat senang. Tapi mentalitas saya tidak boleh berubah: tetap fokus, terus menekan," ujar Marquez saat ditemui di parc ferme.

"Tidak banyak balapan tersisa, tetapi ada banyak momen yang akan dilalui. Jadi, kita harus super terkonsentrasi," pungkasnya menutup sesi wawancara.