Akhir pekan balap Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang meninggalkan kekecewaan mendalam bagi pembalap Fabio Di Giannantonio. Setelah mengawali rangkaian akhir pekan dengan performa menjanjikan, termasuk mengamankan posisi kelima di sesi latihan waktu dan mengonversinya menjadi posisi kelima yang solid pada balapan sepintas atau sprint race, pembalap asal Roma tersebut justru harus menghadapi kenyataan pahit saat balapan utama hari Minggu digelar.

Memulai balapan dari grid keenam yang sangat strategis, pembalap yang bernomor start 49 itu kehilangan taji ketika lampu start padam. Ia terpaksa berjuang mati-matian di barisan tengah hanya untuk mengamankan posisi kedelapan. Garis finis akhirnya dilewati oleh Di Giannantonio setelah melahap 20 putaran penuh, terpaut jarak hampir 18 detik di belakang Marc Marquez yang notabene mengandalkan spesifikasi mesin serupa. Sementara itu, rekan setimnya di garasi, Franco Morbidelli, menyentuh garis finis dua posisi di belakangnya menggunakan motor Ducati versi tahun sebelumnya.

Mengulas akar permasalahan yang merusak ritme balapnya, Di Giannantonio secara terbuka membeberkan bahwa sesi utama tersebut berubah menjadi mimpi buruk teknis. Masalah cengkeraman atau grip pada ban depan langsung terasa sejak tikungan pertama putaran pembuka. Meskipun situasinya tidak separah insiden pengelupasan ban yang pernah dialaminya di Indonesia, ketiadaan daya cengkeram membuat motornya sangat sulit dikendalikan. Situasi semakin diperparah oleh kemunculan getaran hebat yang merusak stabilitas motor sepanjang lomba.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam pengakuannya yang blak-blakan, sang pembalap mengungkapkan betapa frustrasinya ia selama berada di atas sadel motor. Saya hari ini mengendarai sepeda motor, tetapi bukan sedang balapan, keluhnya menggambarkan keputusasaan di lintasan. Dari putaran pertama sama sekali tidak ada grip yang layak di ban depan. Saya hanya sekadar ikut berkeliling lintasan tanpa pernah memiliki feeling yang bagus untuk bisa melaju kencang, ditambah masalah getaran kuat. Sungguh disayangkan seluruh kerja keras selama akhir pekan ini harus sirna begitu saja.

Baca Juga Brad Binder Tinggalkan MotoGP, Gabung BMW WorldSBK 2027

Kondisi tersebut membuatnya merasa tersiksa hingga ia hanya bisa menghitung mundur waktu balapan. Sepanjang lomba berlangsung, ia mengaku hanya menantikan detik-detik terakhir balapan segera usai. Paruh kedua musim kompetisi ini dinilainya benar-benar berjalan di luar jalur yang diharapkan. Selalu saja ada kendala teknis atau non-teknis yang muncul dari satu balapan ke balapan berikutnya, menghalangi tim untuk memaksimalkan potensi sebenarnya di atas lintasan.

Situasi pelik ini kontras dengan penampilan gemilangnya pada awal musim, di mana ia sempat bertarung sengit melawan Marc Marquez di Brasil dan menjelma sebagai salah satu kekuatan utama di kubu pabrikan Borgo Panigale. Dengan posisinya yang kini tertahan di peringkat keenam klasemen, masa depan pembalap yang musim depan akan merapat ke skuad pabrikan KTM ini menuntut konsistensi tinggi agar tidak semakin merosot di sisa kompetisi.