Mantan Prinsipal Tim Red Bull, Christian Horner, akhirnya membuka suara mengenai polemik di balik pemecatannya dari skuad Milton Keynes pada tahun lalu. Dalam sebuah wawancara eksklusif, ia memberikan pandangan mendalam mengenai dinamika internal yang berujung pada perpisahan mengejutkan tersebut setelah dua dekade memimpin tim.

Horner mengindikasikan bahwa pergeseran arah manajemen perusahaan dan persepsi mengenai kekuasaannya di dalam tim menjadi salah satu faktor utama penyingkirannya. Di bawah kepemimpinannya, Red Bull menjelma menjadi kekuatan dominan di ajang Formula 1, merengkuh berbagai gelar juara dunia bersama pebalap legendaris seperti Sebastian Vettel serta era kejayaan modern.

"Saya pikir perusahaan hanya ingin mengambil arah yang berbeda, atau mungkin dianggap bahwa saya memiliki terlalu banyak pengaruh atas tim," ujar Christian Horner dalam wawancaranya. Ia juga menambahkan bahwa dinamika grup berubah drastis setelah wafatnya pendiri utama, sehingga menciptakan lanskap politik internal yang sama sekali baru.

- Advertisement -
Advertisement

Badai internal di Red Bull mulai memanas sepanjang tahun 2024 menyusul investigasi atas dugaan perilaku tidak pantas yang pada akhirnya membersihkan nama sang prinsipal. Kendati demikian, situasi tersebut memicu pertarungan kekuasaan yang pelik di level manajemen tertinggi, diperparah dengan kepergian sejumlah figur kunci dari skuad teknis dan operasional.

Baca Juga Bearman Akui Kebangkitan Hamilton Tidak Ideal untuk Kariernya

Transformasi kepemimpinan pasca-wafatnya Dietrich Mateschitz pada Oktober 2022 disebut-sebut sebagai titik balik hilangnya perlindungan struktural bagi Horner. Jajaran dewan direksi yang kini diawasi oleh CEO Oliver Mintzlaff dikabarkan berupaya mengambil kendali yang lebih besar atas operasional harian tim balap yang sebelumnya berada di bawah kewenangan penuh Horner.

Refleksi mendalam turut disampaikan Horner kepada mendiang Mateschitz yang telah memberikannya kepercayaan besar sejak awal pembelian skuad Jaguar. Tanpa kehadiran sosok visioner tersebut, struktur kekuasaan di dalam kerajaan bisnis minuman berenergi ini mengalami perombakan total yang secara langsung berdampak pada posisi sang prinsipal di garasi Formula 1.