Lampung,Nusantara Media -Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan perkembangan terbaru mengenai aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Berdasarkan periode pengamatan yang dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2026 pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, gunung api dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut ini masih menunjukkan tingkat aktivitas yang cukup dinamis dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait, khususnya masyarakat yang beraktivitas di sekitar wilayah pesisir.

Dalam laporan resmi yang disusun oleh Amri Puji Hidayatul Muslikhin dari Pos Pengamatan Krakatau di Pasauran, Banten, kondisi meteorologi di sekitar kawasan gunung terpantau berawan dengan angin yang bertiup lemah hingga sedang mengarah ke barat laut. Suhu udara di sekitar lokasi tercatat berada pada kisaran 25,6 hingga 32,6 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara mencapai 62 hingga 82 persen. Kondisi visual menunjukkan gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat ketebalan antara 0 hingga III, sementara asap kawah utama teramati bertekanan lemah hingga sedang berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang serta ketinggian berkisar antara 5 hingga 50 meter di atas puncak.

Selain kondisi visual dan cuaca, data kegempaan yang terekam oleh peralatan seismograf menunjukkan adanya aktivitas vulkanik internal yang cukup signifikan. Tercatat sebanyak 6 gempa hembusan dengan amplitudo 22 hingga 31 milimeter dan durasi 21 hingga 66 detik, serta 2 gempa low frekuensi beramplitudo 21 hingga 45 milimeter dengan durasi 6 hingga 14 detik. Dominasi aktivitas gempa juga ditunjukkan oleh 21 kejadian gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 10 hingga 36 milimeter dan durasi 10 hingga 20 detik, serta 1 kejadian gempa tektonik jauh beramplitudo 15 milimeter dengan durasi 94 detik. Sementara itu, tremor menerus atau microtremor terekam dengan amplitudo 2 hingga 25 milimeter dengan nilai dominan sebesar 10 milimeter, disertai kondisi ombak laut yang terpantau sedang.

- Advertisement -
Advertisement

Dengan seluruh rangkaian aktivitas kegempaan dan visual tersebut, PVMBG menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Sehubungan dengan penetapan status siaga ini, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi ketat yang wajib dipatuhi oleh seluruh masyarakat, pengunjung, wisatawan, serta para pendaki. Setiap orang dilarang keras untuk memasuki dan melakukan kegiatan apa pun di dalam wilayah radius 5 kilometer dari pusat erupsi gunung api tersebut.

Selain larangan di radius utama, otoritas berwenang juga melarang masyarakat dan wisatawan untuk mendekati wilayah dalam radius 1 kilometer dari pulau baru yang terbentuk di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau. Masyarakat diimbau untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bahaya lanjutan, seperti lontaran batu pijar, hujan abu lebat, potensi aliran lava, serta ancaman erupsi sekunder yang dapat dipicu oleh kontak langsung antara panas lava dengan air laut maupun air hujan.

Baca Juga Tumpahan Batu Bara di Pulau Popole: Aktivis Desak Pemerintah Awasi Ketat dan Pulihkan Ekosistem Laut

Terkait dengan berbagai informasi yang beredar di tengah masyarakat, Badan Geologi secara khusus meminta warga yang tinggal di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai isu-isu atau berita bohong yang menyatakan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu terjadinya gelombang tsunami. Masyarakat tetap diperbolehkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan syarat senantiasa mengikuti arahan resmi serta informasi terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Bagi masyarakat maupun instansi yang membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai perkembangan aktivitas vulkanik ini, dapat menghubungi kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung melalui nomor telepon (022) 7272606, atau langsung berkoordinasi dengan petugas di Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau di Pasauran, Provinsi Banten.