Lampung , Nusantara Media - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi melaporkan perkembangan terbaru mengenai aktivitas vulkanik di Gunung Anak Krakatau yang terletak di wilayah Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Berdasarkan laporan pengamatan yang disusun oleh Amri Puji Hidayatul Muslikhin pada periode pengamatan sore hari, gunung api dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut ini masih mempertahankan status aktivitasnya pada Level III atau Siaga.
Kondisi meteorologi di sekitar kawasan gunung terpantau berawan dengan angin yang bertiup lemah hingga sedang mengarah ke timur laut serta barat laut. Tercatat kisaran suhu udara berada pada angka 25,8 hingga 33,6 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara berkisar antara 58 hingga 84 persen. Secara visual, kondisi gunung tertutup kabut dari tingkat 0 hingga III, sementara asap kawah utama tidak teramati secara langsung dari pos pengamatan.
Dari segi kegempaan, data instrumental mencatat adanya satu kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo mencapai 38 milimeter serta durasi selama empat detik. Selain itu, aktivitas tremor menerus atau microtremor juga terekam dengan amplitudo yang berfluktuasi antara 5 hingga 18 milimeter, di mana amplitudo dominan tercatat berada pada angka 8 milimeter. Perlu dicatat pula bahwa fasilitas CCTV lapangan yang berada di lokasi saat ini sedang dalam kondisi tidak aktif atau off.
Menanggapi situasi ini, pihak berwenang mengeluarkan serangkaian rekomendasi ketat bagi masyarakat umum, pengunjung, wisatawan, maupun para pendaki. Setiap pihak dilarang keras untuk mendekati, memasuki, serta melakukan berbagai bentuk kegiatan di dalam wilayah radius lima kilometer dari pusat erupsi Lampung Selatan. Larangan serupa juga diberlakukan dalam radius satu kilometer dari pulau baru yang terletak di sektor barat laut dan tenggara.
Baca Juga Ruwat Laut Carita 2025: Harmoni Tradisi, Alam, dan Wisata Bahari di BantenMasyarakat diimbau agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi ancaman bahaya lanjutan. Ancaman tersebut meliputi lontaran batu pijar, potensi hujan abu lebat, aliran lava, serta risiko erupsi sekunder yang mungkin timbul akibat kontak langsung antara panas lava dengan air laut maupun air hujan di dalam radius bahaya yang telah ditetapkan.
Terakhir, warga yang tinggal di wilayah pesisir pantai Provinsi Banten dan Lampung diminta untuk tetap tenang, tidak mudah terpancing, serta mengabaikan berbagai isu atau rumor menyesatkan mengenai potensi tsunami akibat aktivitas gunung ini. Masyarakat dipersilakan untuk tetap menjalankan aktivitas normal sehari-hari dengan senantiasa mengikuti arahan resmi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat serta memantau informasi dari instansi berwenang.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!