Drama kelas premier tersaji di Sirkuit Internasional Sepang ketika Ai Ogura secara mengejutkan mampu memimpin jalannya balapan sprint MotoGP hingga tiga putaran menjelang finis. Pembalap andalan Trackhouse Aprilia tersebut sempat berada di ambang hasil sensasional sebelum akhirnya harus puas menyudahi perlombaan di posisi keempat. Kondisi lintasan yang mulai diguyur hujan memberikan tantangan tersendiri bagi sang juara dunia Moto2 2024, yang harus berjibaku mempertahankan posisi terdepan setelah insiden jatuhnya Alex Marquez pada lap ketiga.

Meski menunjukkan performa yang sangat kompetitif di paruh awal perlombaan, pembalap asal Jepang tersebut tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya seusai balapan. Penurunan kecepatan di sisa balapan membuatnya menjadi target empuk bagi para pembalap di belakangnya. Dalam wawancara eksklusif yang dilansir dari Speedweek, ia secara terbuka mengungkapkan ketidakpuasannya atas hasil akhir yang didapat meski sempat mendominasi jalannya lomba.

"Jika saya finis di tiga besar, maka saya tentu akan merasa senang. Tetapi pada akhirnya saya berada di posisi paling buncit dalam grup terdepan itu, jadi tidak ada alasan sama sekali untuk merasa bahagia," ujar Ogura dengan nada kecewa.

- Advertisement -
Advertisement

Permasalahan utama yang dihadapi oleh pembalap bernomor start tajam ini adalah stagnasi kecepatan saat sendirian di depan tanpa ada referensi pembalap lain. Ketika rintik hujan mulai turun dan membasahi aspal Sepang, ia mengambil alih pimpinan lomba dan sempat memimpin selama beberapa putaran. Namun, ia mengakui bahwa ritmenya tidak mengalami peningkatan, sementara para pesaing di belakangnya justru mampu melaju jauh lebih kencang dan perlahan mengikis keunggulannya.

"Setelah hujan mulai turun, saya memimpin balapan selama beberapa putaran. Namun kecepatan saya justru stagnan. Saya tidak memiliki pembalap di depan yang bisa dijadikan sebagai panduan; saya melibas tikungan demi tikungan sendirian. Kecepatan saya tetap sama di paruh akhir, sementara tiga pembalap di belakang melaju jauh lebih cepat dan berhasil melewati saya satu per satu. Sangat sulit untuk mengelola situasi seperti itu," tambahnya.

Di balik kekecewaan kehilangan podium, peningkatan signifikan yang dirasakan pada motor Aprilia RS-GP miliknya patut diapresiasi. Kerja keras kru tim mekanik sepanjang malam berhasil mengubah drastis performa motor dibandingkan hari Jumat sebelumnya. Peningkatan kecepatan dan konsistensi membuat Marc Marquez dan para rival lainnya harus bekerja keras untuk bisa menaklukkannya dalam duel jarak dekat.

Baca Juga Pedro Acosta Usulkan Solusi Sederhana Aturan Tekanan Ban MotoGP

Pertarungan roda ke roda yang sangat ketat sempat terjadi antara dirinya dan pimpinan klasemen sementara. Duel tersebut mewarnai awal perlombaan dan kembali memanas pada fase akhir balapan ketika para pembalap papan atas mulai melakukan tekanan masif.

"Setelah melakukan start yang cukup baik dan naik beberapa posisi, terjadi duel kecil dengan Marc. Kami beberapa kali melaju berdampingan memasuki tikungan yang sama, situasinya benar-benar sengit. Saya harus mempertahankan posisi, namun saya sadar bahwa ia memiliki kecepatan yang lebih baik dan berniat menyalip. Mengingat kami memasuki tikungan secara bersamaan, saya tentu berusaha keras mempertahankan posisi. Situasinya sedikit kacau, tetapi pada akhirnya ia berhasil mengalahkan saya," jelas Ogura menggambarkan ketegangan di lintasan.

Menutup jalurnya di posisi keempat membuat perolehan poin Pedro Acosta di klasemen sementara semakin menjauh dengan selisih 10 angka dalam perebutan posisi keempat kejuaraan dunia. Kendati demikian, hasil ini tetap mengamankan jaraknya dari kejaran Fabio Di Giannantonio yang finis tepat di belakangnya.