Peta persaingan MotoGP menjelang musim 2027 memicu perdebatan sengit di antara para pembalap kelas utama. Di tengah transisi besar menuju mesin berkapasitas 850cc dan penggunaan ban Pirelli, isu keadilan pengujian pramusim menjadi sorotan utama setelah para pabrikan dikabarkan lebih memprioritaskan pembalap yang bertahan untuk mengikuti sesi uji coba awal. Situasi ini memicu reaksi keras dari Fabio di Giannantonio, yang menilai regulasi saat ini merugikan para pembalap yang berganti tim.
Pembalap asal Italia yang memutuskan pindah dari skuad VR46 Ducati ke Red Bull KTM tersebut mengungkapkan keprihatinannya. Ia menjadi salah satu dari sembilan pembalap yang sama sekali belum pernah mencicipi karakter ban baru tersebut. Daftar pembalap yang bernasib sama mencakup nama-nama besar seperti Pecco Bagnaia, Fabio Quartararo, Alex Marquez, Jorge Martin, Ai Ogura, Enea Bastianini, serta dua debutan asal Honda, David Alonso dan Dani Holgado.
Kelompok pembalap tanpa pengalaman awal ini praktis harus menunggu hingga tes pasca-musim di Valencia pada 1 Desember mendatang. Setelah itu, mereka hanya akan menghadapi program pramusim yang sangat terbatas, yakni hanya empat hari pengujian resmi di Sirkuit Sepang dan Buriram. Situasi ini tentu membuat tim dan pembalap harus berharap penuh pada kondisi cuaca kering agar program pengujian tidak terganggu oleh hujan tropis.
Meskipun regulasi Shakedown Sepang biasanya hanya dibuka untuk pembalap reguler dari pabrikan dengan konsesi peringkat D, seluruh pabrikan dipastikan akan memulai musim 2027 pada peringkat B. Akibatnya, sesi Shakedown dua hari pada akhir Januari tersebut hanya akan dapat diikuti oleh para debutan dan test rider resmi, sementara para pembalap berpengalaman yang pindah tim harus gigit jari.
Menanggapi kondisi tersebut, Enea Bastianini sebelumnya telah melontarkan seruan agar para pembalap yang belum pernah mencoba mesin 850cc dan ban Pirelli diberi izin untuk bergabung dalam sesi Shakedown. Pandangan senada disampaikan secara tegas oleh Fabio di Giannantonio, yang menilai bahwa perubahan teknis yang masif menuntut keadilan bagi seluruh kontestan tanpa terkecuali.
"Itu akan sangat adil," ujar Fabio di Giannantonio mengenai wacana membuka sesi Shakedown bagi mereka yang berganti tim. "Saya tidak tahu apakah itu akan terjadi, tetapi itu adalah sesuatu yang saya harapkan karena saya pikir itu bisa sangat adil. Karena tahun depan bukan hanya perubahan kecil; ini adalah kelas yang sepenuhnya baru."
Baca Juga Dominasi Aprilia dan Jadwal Lengkap MotoGP Indonesia 2026Ia menambahkan bahwa status para pembalap berpengalaman tidak akan berarti apa-apa ketika menghadapi regulasi baru ini. Tanpa waktu uji coba yang memadai, para pembalap yang berpindah pabrikan akan merasakan kerugian yang setara dengan pembalap debutan karena minimnya kilometer lintasan yang telah mereka tempuh.
"Jadi para pembalap ahli sama sekali tidak akan menjadi ahli. Banyak dari kita, seperti saya, mungkin akan seperti salah satu pembalap debutan karena saya akan memiliki lebih sedikit hari dengan ban Pirelli dibandingkan dengan yang lainnya. Jadi, saya berharap mereka bekerja keras untuk membuat segalanya adil untuk balapan pertama," lanjutnya.
Selain masalah keadilan kompetitif, faktor keselamatan juga menjadi argumen utama yang disuarakan oleh sang pembalap. Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai karakteristik ban dan reliabilitas komponen motor baru sangat krusial untuk menghindari potensi kecelakaan akibat ketidaksiapan di atas lintasan.
"Ini juga tentang keselamatan, jujur saja, tentang mengenal ban. Juga jika sebuah motor mengalami masalah dan Anda tidak dapat menggunakannya selama satu hari pengujian, Anda tidak mengenal motor tersebut, dan Anda tidak tahu keandalan beberapa bagian motor. Untuk setiap pabrikan, situasinya seperti ini. Jadi saya pikir untuk alasan keselamatan, kita harus tiba dengan kilometer minimum untuk semua orang dan kilometer maksimum juga," pungkasnya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!