Lampung Selatan ,Nusantara Media — Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terletak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, masih berada di dalam pengawasan ketat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Berdasarkan laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau periode pengamatan 15 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, gunung api dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini kini masih ditetapkan pada Level III (Siaga).

​Kendati pengamatan secara visual mengalami sejumlah kendala di lapangan, aktivitas kegempaan dan kondisi meteorologi tetap terpantau secara berkala oleh petugas pos pengamatan. Muhammad Dika Nurzaman selaku penyusun laporan dalam sistem MAGMA-Indonesia mengungkapkan bahwa kondisi cuaca di sekitar gunung pada pagi hari ini didominasi cuaca berawan dengan angin yang bertiup lemah ke arah barat laut. Suhu udara tercatat berkisar antara 27 hingga 27,4 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara cukup tinggi, yakni mencapai 78 hingga 83 persen.

​Aspek visual Gunung Anak Krakatau pada periode ini terpantau tertutup kabut dengan tingkat ketebalan bervariasi dari 0 hingga III, sehingga asap kawah utama tidak teramati secara langsung dari pos pengamatan darat. Situasi ini semakin diperparah dengan kondisi perangkat teknologi pemantauan jarak jauh. Berdasarkan keterangan resmi, lensa visual Closed-Circuit Television (CCTV) tertutup oleh material abu vulkanik serta mengalami kerusakan teknis. Akibat kombinasi gangguan ini, pemantauan visual langsung dari pos maupun via perangkat elektronik menjadi sangat terbatas.

- Advertisement -

​Di tengah keterbatasan visual tersebut, instrumen seismograf di Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau berhasil merekam aktivitas kegempaan yang terjadi di dalam tubuh gunung. Tercatat adanya aktivitas kegempaan Tektonik Jauh sebanyak 1 kejadian dengan karakteristik amplitudo mencapai 71,2 mm, gelombang S-P selama 269 detik, serta durasi gempa yang berlangsung cukup lama, yakni 2.722 detik.

​Selain itu, aktivitas Tremor Menerus (Microtremor) juga terekam secara terus-menerus dengan kisaran amplitudo antara 0,5 hingga 5 mm, di mana amplitudo dominan berada pada angka 1 mm. Rekaman tremor ini mengindikasikan adanya dinamika fluida atau suplai magma di bawah permukaan kawah yang masih berlangsung.

​Menyikapi tingkat aktivitas yang masih bertahan pada Level III (Siaga) serta potensi bahaya letusan susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu, Badan Geologi melalui PVMBG mengeluarkan rekomendasi tegas bagi masyarakat umum.

​"Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki diminta untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau serta tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif," ujar pihak PVMBG dalam rilis resminya.


 

​Langkah mitigasi ini diambil guna menghindari potensi ancaman bahaya lontaran material pijar, gas beracun, maupun paparan abu vulkanik pekat yang dapat mengancam keselamatan jiwa. Warga diimbau untuk senantiasa memantau perkembangan informasi resmi melalui kanal MAGMA Indonesia dan media sosial PVMBG guna mendapatkan update data vulkanologi yang akurat dan terpercaya.