Pembalap muda sensasional asal Spanyol, Pedro Acosta, secara mengejutkan mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak akan tampil baik seandainya ia memutuskan untuk bergabung dengan pabrikan Borgo Panigale pada musim balap 2026 mendatang. Keputusan tersebut batal diambil setelah ia sempat dikaitkan dengan opsi bergabung ke skuad balap milik Valentino Rossi, menyusul beban mental dan tekanan berat yang ia rasakan selama membela panji pabrikan Austria.

Pemenang seri balap kelas utama ini dipastikan akan melakukan salah satu perpindahan paling fenomenal di bursa transfer pebalap ketika ia resmi berseragam tim pabrikan utama Ducati mulai musim 2027 mendatang. Di garasi tim pabrikan tersebut, ia akan berduet langsung dengan megabintang asal Cervera, Marc Marquez, dalam sebuah formasi super tim yang sangat diantisipasi oleh para penggemar balap motor grand prix di seluruh dunia.

Sebelum keputusan besar ini akhirnya tercapai, peluang emas untuk menyeberang ke kubu Desmosedici sebenarnya sudah terbuka lebar sejak awal musim lalu. Pembicaraan intensif sempat terjalin mengenai potensi kepindahan ke skuad VR46 di tengah situasi kompetitif yang tidak berjalan mulus bersama KTM. Kendati demikian, sang pebalap muda berbakat ini memilih untuk tetap menghormati sisa kontrak satu tahunnya di skuad RC16 dan bahkan berhasil mempersembahkan kemenangan perdana yang emosional di Grand Prix Austria.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam sebuah wawancara eksklusif mendalam dengan harian olahraga AS, sang bintang muda menjelaskan secara rinci dinamika psikologis yang ia alami saat itu. Dilansir dari Crash.net, ia menyatakan bahwa segala sesuatunya berjalan sesuai garis takdir yang semestinya terjadi tanpa perlu disesali oleh siapapun.

"Hal-hal memang terbukti terjadi seperti itu adanya," ujar sang pebalap menguraikan situasi sulit yang dihadapinya pada masa lalu.

"Mungkin saya bisa saja naik ke atas motor tersebut, tetapi dengan seluruh rasa frustrasi yang saat itu masih saya bawa dan tanggung di pundak, saya merasa tidak akan mampu berbuat banyak atau tampil dengan baik," tambahnya menegaskan.

Baca Juga Pecco Bagnaia Bungkam Soal Masalah Ducati di Sprint MotoGP Australia

Lebih lanjut, ia meyakini bahwa momentum kepindahan yang didapatkannya saat ini jauh lebih matang karena datang di saat dirinya benar-benar siap secara mental maupun teknis. Pengalaman melewati fase-fase penuh tekanan pada musim-musim sebelumnya justru menjadi tempaan berharga yang membuatnya mampu tampil konsisten, mendulang hasil positif, dan membuat perbedaan signifikan dibandingkan para penunggang kuda besi sejenis dari pabrikan lamanya.

Menatap masa depan, pebalap bernomor lambung khas ini melihat dua musim ke depan sebagai kesempatan emas yang sangat krusial dalam perjalanan karier profesionalnya. Berduet dengan sang juara dunia tujuh kali memberikan kans langka untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya sebelum seniornya tersebut memutuskan gantung helm.

"Ini adalah kesempatan terakhir atau setidaknya salah satu peluang terakhir yang dimiliki oleh seorang pebalap muda untuk bisa belajar langsung darinya sebelum ia pensiun dari dunia balap," ungkapnya penuh antusias.

Target utamanya kini adalah beradaptasi secepat mungkin dengan cara kerja, kultur, dan operasional teknis di dalam garasi tim barunya. Setelah menghabiskan waktu enam tahun bersama struktur KTM, ia menyadari bahwa tantangan terbesar baginya adalah memahami lingkungan baru sebelum akhirnya fokus mencuri ilmu dari sang ikon balap motor modern.