Pembalap asal Italia, Pecco Bagnaia, secara terbuka menyatakan bahwa dirinya akhirnya dapat kembali merasakan sensasi membalap layaknya seorang pembalap tim pabrikan sejati. Ungkapan tersebut dilontarkan sang juara dunia dua kali itu usai merampungkan sesi latihan hari Jumat pada rangkaian akhir pekan MotoGP Qatar dengan mengamankan posisi keempat secara keseluruhan. Performa impresif ini kontras dengan periode sulit yang harus ia hadapi dalam beberapa putaran terakhir sejak jeda musim panas, di mana ketegangan sempat muncul antara dirinya dan pabrikan asal Borgo Panigale akibat kesulitan teknis yang berkepanjangan di atas lintasan.

Sebelumnya, situasi pelik sempat memuncak ketika ia hanya mampu finis di posisi ke-13 pada balapan Grand Prix Malaysia. Usai balapan tersebut, Bagnaia sempat melontarkan komentar bernada frustrasi bahwa ada sesuatu yang hilang dari motornya, elemen krusial yang sebelumnya membantunya meraih kemenangan gemilang di Jepang. Meskipun belakangan ia meralat pernyataan itu dengan menyebutnya sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian media, kenyataan di atas lintasan memperlihatkan bahwa sang pembalap memang tengah berjuang keras menemukan kembali sentuhan magisnya bersama motor Desmosedici.

Namun, atmosfer di garasi berubah drastis ketika sesi latihan bebas di Sirkuit Lusail dimulai. Bagnaia tampil sebagai pebalap yang jauh berbeda, menunjukkan kecepatan balap yang sangat kompetitif dan konsisten di barisan depan. Ia mengakui bahwa karakteristik lintasan serta tingkat cengkeraman aspal yang lebih baik di Qatar memang sesuai dengan ekspektasinya, namun kebangkitan rasa percaya diri ini tetap menjadi sebuah angin segar yang sangat dinantikan oleh sang juara dunia setelah berbulan-bulan bergelut dengan masalah setup.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam sesi jumpa pers pascalatihan yang dilansir dari Crash.net, Bagnaia menegaskan tekadnya untuk kembali menikmati setiap detik kecepatan di atas motor. Menjadi bagian dari struktur tim pabrikan besar namun harus menderita lewat hasil-hasil minor di seri sebelumnya merupakan ujian mental yang berat baginya. "Saya ingin menikmati proses melaju dengan cepat," ujar Bagnaia. "Berada di tim pabrikan dan menderita seperti yang saya alami di Grand Prix terakhir adalah hal yang sangat berat. Di sini saya merasa seperti pembalap pabrikan lagi, dan saya ingin menggunakan seluruh potensi itu untuk berkontribusi kepada tim."

Baca Juga Alex Rins Kecewa Yamaha Tolak Uji Motor 850cc

Lebih lanjut, pembalap andalan Ducati tersebut mengungkapkan bahwa akhir pekan di Qatar memberikan kenyamanan berkendara terbaik yang ia rasakan sejak seri di Republik Ceko, di mana ia sukses meraih kemenangan di sesi sprint dan naik podium pada balapan utama. Kegembiraan kembali terpancar dari wajahnya karena ia bisa memacu motor hingga batas maksimal tanpa harus merasa ragu dengan respons sasis maupun traksi roda belakang yang selama ini menjadi misteri baginya.

Ia menambahkan bahwa dirinya belum sepenuhnya merasakan setelan ideal yang diimpikannya, tetapi posisi saat ini sudah sangat mendekati apa yang ia inginkan. Kejelasan data dan feeling yang solid membuat komunikasi dengan para teknisi di garasi menjadi jauh lebih efektif. Ketika seorang pebalap berada dalam situasi menderita, mereka cenderung hanya menebak-nebak arah pengembangan, tetapi pada hari Jumat di Qatar, Bagnaia dan krunya tahu persis apa yang sedang terjadi pada motor MotoGP geberannya.