Lando Norris mengungkap alasan di balik permintaan maaf ganda kepada Franco Colapinto. Insiden di Grand Prix Azerbaijan memicu kemarahan juara dunia itu, namun kritik tajamnya justru berbalik menjadi badai kontroversi.
Semua bermula ketika Colapinto mengalami lock-up saat restart safety car di Baku. Mobil Alpine-nya meluncur dan menabrak rekan setimnya, Pierre Gasly, yang kemudian menghantam McLaren milik Norris. Ketiganya tersingkir seketika. Norris pun melontarkan pernyataan pedas, bahkan menilai Colapinto “tidak layak berada di F1” dan menuntut larangan balap.
Komentar itu memicu reaksi keras dari penggemar, terutama pendukung Colapinto. Norris pun diterpa hujatan daring, termasuk ancaman pembunuhan. Menjelang Grand Prix Bahrain di Malaysia, pembalap Inggris itu akhirnya angkat bicara. Ia mengaku lebih dulu menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Colapinto sebelum mengunggah pernyataan publik di media sosial.
“Itu lebih untuk audiens yang lebih luas. Saya sudah mengatakan apa yang ingin saya sampaikan kepada Franco, dan hanya dia yang benar-benar perlu mendengar pendapat dan permintaan maaf saya,” jelas Norris di Sepang. “Saya tidak perlu melakukannya di media sosial, dan saya rasa tidak perlu menggunakan media sosial untuk menyampaikan permintaan maaf. Tapi ada banyak kebisingan, jadi saya pikir masuk akal untuk menunjukkan secara publik bahwa saya sudah meminta maaf.”
Norris juga mengakui kesalahannya. “Saya menerima bahwa saya salah. Saya biasanya begitu juga dengan cara mengemudi, menerima ketika saya melakukan kesalahan. Karena ini sesuatu yang saya ucapkan di TV, saya pikir adil untuk membagikannya kepada semua orang, karena mereka semua melihatnya. Itu bukan nilai sejati bagaimana saya membawa diri,” tambahnya.
Baca Juga Martin Brundle: Russell Harus Pertanyakan Keputusan Mercedes di MonzaMeski menghargai gairah penggemar, Norris menegaskan tidak ada tempat untuk pelecehan. “Sayangnya itu yang harus kami hadapi – banyak olahraga mengalaminya, sebagian karena gairah, dan Anda melihat lebih banyak karena di media sosial orang mudah berbagi opini. Saya menghormatinya, tapi pelecehan online, ancaman pembunuhan – semua itu jauh melampaui batas menjadi penggemar olahraga atau pembalap. Ada batasnya. Ini bukan hal baru, sudah lama terjadi di setiap olahraga, dan menunjukkan bahwa platform media sosial dan olahraga perlu berbuat lebih banyak untuk menghentikan hal seperti ini.”
Colapinto sendiri akan menjalani hukuman turun lima posisi grid di Grand Prix Bahrain akhir pekan ini. Insiden di Baku menjadi pukulan bagi Alpine yang kehilangan dua mobil sekaligus, sementara McLaren juga harus menerima kenyataan pahit kehilangan Norris. Klasemen konstruktor pun semakin ketat, dan setiap poin menjadi sangat berharga di sisa musim.
Kasus ini menyoroti sisi gelap media sosial dalam olahraga, terutama di Formula 1. Para pembalap semakin vokal menuntut perlindungan dari pelecehan daring. Norris berharap insiden ini menjadi pelajaran, bahwa permintaan maaf tulus lebih bermakna daripada sekadar unggahan di dunia maya.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!