Pembalap bintang Max Verstappen secara terbuka memberikan pembelaan keras terhadap rekan setimnya di ajang GT World Challenge Europe, Chris Lulham, menyusul gelombang kebencian dan pelecehan online yang diterima sang pembalap muda. Insiden tersebut bermula dari serangkaian drama menegangkan dalam balapan ketahanan yang berlangsung di sirkuit Portimao, di mana Verstappen turut serta melakukan debutnya bersama tim yang dikelolanya sendiri menggunakan kendaraan GT3.
Perjalanan akhir pekan tersebut tidak dilalui dengan mudah oleh skuad bernomor lambung tiga milik Team Verstappen. Setelah sesi kualifikasi yang berjalan cukup sulit pada hari Jumat, tim harus menghadapi tantangan besar di atas lintasan aspal Portimao. Ben Barnicoat, yang dipercaya memulai jalannya balapan dari garasi awal, mampu menunjukkan kelasnya dengan melesat impresif dan membawa Mercedes AMG GT3 naik hingga posisi kedua sebelum akhirnya masuk ke area pit lane setelah melakoni stint selama 66 menit penuh.
Tongkat estafet kemudian beralih kepada Chris Lulham yang mengambil alih kemudi dari Barnicoat. Keluar dari jalur pit di posisi kedelapan, Lulham langsung terlibat dalam pertempuran ketat di barisan tengah. Nahas, sebuah insiden kontak fisik tak terhindarkan terjadi antara mobil yang dikemudikannya dengan mobil Mercedes bernomor 11. Akibat senggolan tersebut, pengawas balapan menjatuhkan sanksi penalti berupa drive-through yang langsung memaksa Lulham merosot jauh ke posisi ke-16 klasemen sementara perlombaan.
Ketika giliran pit stop berikutnya tiba untuk menyerahkan kemudi kepada Verstappen demi menyelesaikan sisa waktu balapan, situasi tim sudah berada di ujung tanduk. Mobil Mercedes No. 3 tersebut harus kembali bergabung ke dalam lintasan dari posisi ke-24, menyisakan jarak yang sangat jauh dan tugas berat untuk merangsek ke depan. Namun, mentalitas juara dunia Formula 1 berbicara dengan nyaring di atas lintasan Portimao.
Dengan gaya khasnya yang agresif namun penuh perhitungan, Verstappen langsung melancarkan serangan bertubi-tubi sejak detik pertama ia memegang kemudi. Pembalap asal Belanda itu membuat kemajuan yang sangat stabil dan luar biasa melewati barisan demi barisan pembalap di depannya, hingga akhirnya berhasil melintasi garis finis di tempat kesembilan yang sangat luar biasa setelah melalui pertarungan sengit selama satu jam terakhir balapan.
Baca Juga Tsunoda Cerita Panggilan di Pantai Yunani Jelang Comeback F1Kendati aksi penyelamatan luar biasa tersebut sukses menyelamatkan wajah tim, hasil akhir yang dramatis tidak menghentikan gelombang serangan dan pelecehan verbal dari oknum warganet di media sosial yang diarahkan secara personal kepada Lulham akibat insiden penalti di tengah lomba. Hal inilah yang memicu kemarahan sang juara dunia F1 empat kali untuk angkat bicara dan memberikan teguran keras kepada publik maya.
Dilansir dari Crash.net, Verstappen meluapkan kekesalannya melalui pernyataan tegas di platform media sosial resminya. Ia mengatakan, "Saya juga merasa harus angkat bicara mengenai kebencian dan pelecehan yang diterima Chris setelah balapan. Setiap orang boleh memiliki pendapat tentang apa yang terjadi di atas lintasan, tetapi serangan personal ini sama sekali tidak dapat dibenarkan. Chris telah menjalani stint yang sangat kuat dan kesalahan adalah hal yang lumrah terjadi."
Verstappen menambahkan bahwa perilaku tercela semacam itu tidak memiliki tempat sedikit pun di dalam dunia olahraga otomotif maupun di bidang kehidupan lainnya. Di samping insiden kurang menyenangkan tersebut, pembalap andalan Red Bull ini mengaku sangat menikmati akhir pekan perdananya di ajang GT World Challenge Europe dan memetik banyak pelajaran berharga dari atmosfer balap ketahanan GT3 yang kompetitif.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!