Pekan balap di Pertamina Mandalika International Circuit memberikan pelajaran berharga bagi Marc Marquez dalam usahanya mengejar gelar juara dunia musim ini. Pembalap Ducati Lenovo Team tersebut harus puas melintasi garis finis di posisi keenam pada hari Minggu dalam ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia. Meski kehilangan singgasana puncak klasemen sementara ke tangan rival utamanya, pembalap asal Spanyol tersebut memilih untuk melihat sisi positif dari keseluruhan rangkaian akhir pekan yang telah dilaluinya di Lombok.

Memulai balapan utama hari Minggu dengan modal kemenangan gemilang pada sesi Sprint hari Sabtu, sang juara dunia sembilan kali merasa optimis menghadapi balapan sepanjang 27 putaran tersebut. Namun, situasi di lintasan berkata lain ketika ia harus berhadapan dengan kecepatan luar biasa dari para pembalap di barisan depan. Marquez secara realistis mengakui bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki jawaban atas performa impresif yang ditunjukkan oleh motor-motor pesaing utama sepanjang jalannya lomba.

Dalam wawancara usai balapan, pembalap andalan Borgo Panigale ini menjelaskan bahwa hasil keenam bukanlah sebuah bencana besar mengingat ketatnya persaingan perebutan gelar juara dunia. Ia bahkan secara terbuka menyatakan bahwa skenario akhir pekan ini masih berada dalam batas aman yang dapat ia terima sebelum sesi latihan bebas dimulai pada hari Kamis sebelumnya. Konsistensi tetap menjadi kunci utama bagi pembalap bernomor sembilan puluh tiga tersebut dalam mengumpulkan pundi-pundi poin penting.

- Advertisement -
Advertisement

“Jika seseorang memberi tahu saya pada hari Kamis bahwa saya hanya akan kehilangan tiga poin dari Marco Bezzecchi akhir pekan ini dan mencetak poin yang sama dengan Jorge Martin, saya akan langsung menandatanganinya,” ungkap Marquez menjelaskan situasi perolehan poin kejuaraan dunia. “Kami telah menjalani akhir pekan yang luar biasa dan tampil konsisten. Terutama pada paruh kedua balapan kami memang kesulitan, namun saya puas dengan bagaimana akhir pekan ini berjalan.”

Sepanjang balapan berlangsung, pengamat MotoGP sempat dibuat heran ketika Marquez beberapa kali membiarkan pembalap lain menyalipnya tanpa perlawanan sengit, terutama ketika melibas tikungan sepuluh. Menanggapi hal tersebut, sang pembalap menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil secara sadar demi menghindari insiden yang tidak perlu yang dapat menghancurkan peluangnya dalam perburuan gelar secara keseluruhan.

“Saya tidak ingin mengambil risiko yang tidak perlu,” tegasnya. “Dengan sisa dua belas putaran, saya merasa tempo saya cukup baik, namun saya juga tahu bahwa Pedro Acosta dan Ai Ogura pada akhirnya akan melewati saya. Mungkin Fabio Di Giannantonio juga akan melakukan hal yang sama, tetapi ia kemudian melebar. Rencana saya sederhana, yaitu menghindari risiko yang tidak perlu.”

Baca Juga Colapinto Menangis Usai 'Buang' Peluang Podium di Monza

Kendala teknis terkait kompon ban juga menjadi salah satu faktor pembatas performa Marquez di atas Desmosedici GP miliknya. Berbeda dengan hari sebelumnya, masalah utama pada balapan utama hari Minggu justru terletak pada cengkeraman ban belakang yang mengalami penurunan drastis jauh lebih cepat dari perkiraan awal tim pabrikan.

“Ban depan bekerja sempurna, tetapi ban belakang sangat cepat habis kondisinya,” jelas Marquez. “Saya sempat bisa menjaga ritme balap yang mirip dengan Martin pada momen-momen tertentu, namun itu hanya bertahan sepuluh putaran saja. Sama seperti saat Sprint hari Sabtu. Untuk balapan sepanjang dua7 putaran, hal tersebut jelas tidak mungkin dilakukan secara terus-menerus.”

Pada akhirnya, Marquez dengan besar hati mengakui bahwa pabrikan saingan tampil di level yang berbeda pada akhir pekan ini di Mandalika. Ia menyimpulkan bahwa kedewasaan dalam menerima kekalahan dari pembalap yang lebih cepat merupakan prasyarat mutlak jika ia ingin terus menjaga asa merebut mahkota juara dunia hingga seri pemungkas musim ini.