Hubungan antara kondisi lintasan basah dan Formula 1 akhir-akhir ini tidak lagi berjalan harmonis. Berbagai peristiwa dalam beberapa akhir pekan balap terakhir seakan menunjukkan betapa jauh ajang balap mobil paling bergengsi di dunia ini telah merosot ketika dihadapkan pada situasi hujan. Ironisnya, ketika hujan turun di masa lalu, balapan justru selalu menjanjikan pertunjukan yang luar biasa dramatis, penuh intrik, dan tak terlupakan. Namun saat ini, situasi tersebut berubah menjadi anti-klimaks yang mengecewakan, padahal hal tersebut sebenarnya tidak harus terjadi.

Jika kita menengok ke belakang dalam lembaran sejarah Formula 1, ada banyak contoh luar biasa di mana mobil-mobil melaju kencang di tengah lintasan yang basah kuyup. Mari kita ambil contoh Grand Prix Inggris di Silverstone pada tahun 2008. Dimulai dalam kondisi kering, hujan badai yang hampir menyerupai monsun tiba-tiba mengguyur sirkuit tanpa ampun. Para pemandu mobil dipaksa untuk berpikir cepat dan bernavigasi melalui kondisi rumit di mana aquaplaning menjadi ancaman nyata tanpa ada ruang sedikit pun untuk melakukan kesalahan. Ini adalah bentuk seleksi alam yang sesungguhnya di lintasan, di mana hanya pembalap terbaik yang mampu bertahan hingga garis akhir.

Belum lagi kita mengenang kekacauan di Brasil pada tahun 2003 yang diwarnai oleh kemunculan mobil keselamatan berulang kali serta banyaknya kendaraan yang melintir keluar lintasan. Mobil-mobil mengalami aquaplaning dan menabrak pembatas, bahkan seorang juara dunia bertahan sekelas Michael Schumacher pun tidak luput dari nasib sial tersebut, mencatatkan pengunduran diri pertamanya sejak GP Jerman dua tahun sebelumnya. Balapan itu menuntut keterampilan tingkat tinggi dan kelicikan strategi, dan meskipun start balapan sempat ditunda, penantian panjang tersebut terbayar lunas begitu lampu start padam.

- Advertisement -
Advertisement

Tentu saja, balapan paling ikonis di bawah guyuran hujan deras tetaplah GP Kanada pada tahun 2011. Memegang rekor sepanjang masa sebagai balapan terpanjang dalam sejarah dengan durasi mencapai 4 jam, 4 menit, dan 39 detik, ajang tersebut sempat terhenti akibat pengibaran bendera merah selama dua jam penuh. Kondisi cuaca saat itu memang sangat mengerikan, namun lintasan tetap menampung genangan air saat balapan dimulai kembali, yang pada akhirnya melahirkan kemenangan legendaris bagi Jenson Button setelah melewati berbagai hukuman penalti drive-through dan pit stop yang melelahkan.

Lantas, di manakah letak kesalahan dari semua perubahan sikap ini? Benang merah dari seluruh balapan bersejarah tersebut adalah bahwa meskipun cuaca sangat buruk, ajang balap tetap dilangsungkan dan justru bersinar karena tantangan ekstrem tersebut. Sayangnya, dalam era modern Formula 1 saat ini, pemandangan semacam itu menjadi semakin langka dari tahun ke tahun, memicu risiko bahwa olahraga ini akan dikenal sebagai ajang yang terlalu berhati-hati setiap kali tetesan air hujan mulai membasahi aspal sirkuit.

Baca Juga George Russell Kecelakaan di GP Singapura Hancurkan Peluang Juara

Dalam beberapa tahun terakhir, Formula 1 secara perlahan mengalami regresi dengan terlalu mudah mengeluarkan mobil keselamatan atau mengibarkan bendera kuning pada risiko sekecil apa pun. Zaman memang telah berubah dan standar keselamatan terus meningkat pesat, namun jika melihat versi modern dari olahraga ini saat ini, sulit untuk membayangkan balapan seperti di Brasil 2003 atau Silverstone 2008 diizinkan untuk terus berjalan di era sekarang. Balapan dipastikan akan langsung dihentikan dengan bendera merah jauh sebelum mobil-mobil sempat mengalami aquaplaning.

Jika kita mencari katalisator utama di balik pergeseran sikap yang drastis ini, ada satu kejadian besar yang menjadi gajah di dalam ruangan, yaitu Grand Prix Belgia di Spa pada tahun 2021 silam. Balapan yang kini menjadi lembaran kelam karena hanya menyelesaikan dua putaran di belakang mobil keselamatan selama berjam-jam itu boleh dibilang telah mengubah cara balapan dijalankan dalam kondisi basah. Peristiwa tersebut memang merupakan skenario ekstrem yang kecil kemungkinan untuk terulang kembali, namun dampaknya terhadap mentalitas Formula 1 dalam menghadapi hujan tidak boleh diremehkan begitu saja.