Pandeglang, Nusantara Media  — Potret buram kemiskinan ekstrem dan ketimpangan sosial masih nyata membayangi wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten. Di tengah gempuran program pengentasan kemiskinan, keluarga kecil pasangan Iif Fahroji Anda (27) dan Rukmini (19), warga Kampung Kadu Calung, RT 002 / RW 002, Desa Pasirgadung, Kecamatan Patia, justru terasing dari perhatian pemerintah.

Bersama buah hati mereka yang masih balita, Ripal Galih (1), keluarga muda ini harus mengurut dada menghadapi pahitnya kenyataan hidup. Mereka terpaksa bernaung di bawah bangunan rumah berdinding kayu dan gubuk bambu yang sudah sangat lapuk dimakan usia.

Atap seng dan genteng rumah mereka dipenuhi celah bocor. Saat musim hujan atau cuaca ekstrem melanda kawasan Patia, rumah tersebut tak lagi mampu memberikan perlindungan. Air hujan merembes deras menerobos masuk, membasahi seluruh isi ruangan dan memaksa pasangan ini terjaga sepanjang malam demi menjaga balita mereka agar tidak kedinginan.

- Advertisement -

Kondisi ini diperparah oleh mata pencaharian Iif Fahroji yang hanya bergantung pada pekerjaan serabutan. Tanpa penghasilan tetap, Iif sering kali harus pulang dengan tangan hampa. jangankan untuk menyisihkan uang guna memperbaiki struktur rumahnya yang mulai miring dan lapuk, untuk sekadar menyajikan hidangan di meja makan setiap harinya pun Iif terpaksa masih mengandalkan belas kasih dari orang tuanya.

"Pekerjaan saya cuma serabutan, hasilnya tidak tentu. Kadang ada kerjaan, tapi lebih sering tidak ada. Jangankan untuk membetulkan rumah yang sudah bocor dan lapuk begini, buat makan sehari-hari saja kami masih menumpang dan mengandalkan orang tua," tutur Iif Fahroji dengan nada pilu saat mengungkapkan keluh kesahnya kepada awak media.

Kenyataan pahit yang dialami keluarga Iif semakin menyayat hati tatkala terungkap fakta mengenai jaminan sosial mereka. Di tengah kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan, Iif mengaku bahwa keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan sosial (Bansos) bentuk apa pun dari pihak Pemerintah Desa Pasirgadung.

Tidak hanya bantuan beras atau program keluarga harapan (PKH), jaminan kesehatan paling dasar seperti kartu BPJS Kesehatan pun tidak dimiliki oleh keluarga ini. Kondisi ini menjadi ancaman serius, terutama bagi balita mereka jika sewaktu-waktu membutuhkan penanganan medis mendesak.

"Saya belum pernah mendapatkan bantuan apa pun dari desa. Kartu BPJS pun kami tidak punya sama sekali. Kalau anak sakit, kami bingung harus cari biaya dari mana," tambah Iif memelas.

Kini, tidak banyak impian mewah yang digantungkan oleh Iif dan Rukmini. Mereka hanya mendambakan sebuah hunian yang layak, aman, dan tidak kebocoran disaat hujan deras mengguyur kawasan tempat tinggal mereka.

Keluarga kecil ini sangat mengharapkan adanya uluran tangan dari para dermawan serta respon cepat dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, khususnya Dinas Sosial dan instansi terkait, agar dapat memasukkan rumah mereka ke dalam program bedah rumah atau Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Harapan besar bertumpu agar jeritan hati warga kecil di pelosok Pandeglang ini tidak sekadar menjadi angin lalu, melainkan segera mendapat perhatian dan tindakan nyata demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.