Pembalap muda berbakat Isack Hadjar melayangkan kritik tajam terhadap penerapan format Sprint Race di ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1. Komentar keras ini muncul menyusul akhir pekan yang sangat sulit bagi dirinya pada Grand Prix Singapura, di mana ia merasa bahwa format balapan singkat tersebut tidak lagi menyisakan ruang bagi kerja keras teknis, melainkan sekadar menuntut para pembalap untuk mengandalkan faktor keberuntungan semata di atas lintasan.

Sepanjang akhir pekan di Singapura, Red Bull menghadapi ujian berat yang menghambat performa mobil RB22. Mulai dari masalah ground effect yang terlalu ekstrem atau biasa disebut bottoming pada satu-satunya sesi Latihan Bebas, hingga serangkaian kegagalan unit daya yang mendera mesin mobil. Kendala teknis bertubi-tubi ini membuat sang pembalap asal Prancis harus berjuang keras di kokpit sebelum akhirnya terpaksa gagal finis dalam balapan Sprint, sementara balapan utama Grand Prix hanya membawanya finis di posisi kesepuluh.

Situasi pelik tersebut semakin diperparah dengan minimnya waktu persiapan akibat aturan akhir pekan Sprint yang hanya menyediakan satu sesi latihan bebas tunggal. Keterbatasan waktu ini membuat para insinyur dan pembalap kehilangan kesempatan krusial untuk mengumpulkan data telemetri yang akurat guna melakukan penyesuaian set-up kendaraan secara optimal sebelum sesi kualifikasi dimulai, sebuah kondisi yang dinilai sangat merugikan perkembangan teknis tim.

- Advertisement -
Advertisement

"Itu adalah masalah utama dengan akhir pekan seperti ini di mana Anda tidak bisa bekerja pada mobil," ujar Hadjar usai merampungkan sesi kualifikasi di Singapura. Ia menambahkan bahwa format tersebut membuat persiapan teknis nyaris mustahil dilakukan secara maksimal. "Seperti, itu mustahil. Anda hanya harus mengandalkan keberuntungan. Tidak ada pekerjaan nyata. Saya rasa menonton kami melakukan banyak tes memang tidak menghibur bagi penonton, tetapi hal itu sangat penting bagi kami."

Baca Juga Red Bull Menanti Keputusan ADUO Kedua FIA untuk Peluang Pengembangan

Meskipun CEO Formula 1 Stefano Domenicali bersikeras bahwa format Sprint memberikan nilai hiburan yang tinggi bagi para penonton di layar kaca, para pembalap dan penggemar justru menunjukkan resistensi yang kuat, terutama di bawah bayang-bayang regulasi teknis baru. Keputusan penyelenggara yang terus menambah jumlah balapan Sprint hingga mencapai 10 seri pada kalender musim 2027—termasuk rencana menggelar Sprint di sirkuit jalan raya bersejarah Monaco—semakin memicu tanda tanya besar di paddock mengenai arah kebijakan masa depan olahraga ini.