PANDEGLANG, NUSANTARA MEDIA — Suasana malam yang seharusnya tenang bagi warga di kawasan pesisir Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, seketika berubah mencekam pada hari Minggu, 6 September 2026. Hal ini dipicu oleh beredarnya sebuah video di berbagai platform media sosial dan grup aplikasi pesan singkat yang menyebarkan narasi menakutkan: terjadi tsunami akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kepanikan massal seketika pecah. Dalam rekaman video berdurasi 05 menit 05 detik tersebut, terekam jelas kekacauan lalu lintas di malam hari. Terlihat warga, baik yang menggunakan sepeda motor maupun mobil bak terbuka, berdesak-desakan dan saling membunyikan klakson dalam upaya melarikan diri dari kawasan pesisir menuju tempat yang lebih tinggi. Situasi diperparah oleh keputusasaan dan kepanikan warga yang tidak mengetahui fakta sebenarnya di lapangan.

Sang perekam video, dengan nada panik dan suara terengah-engah, melaporkan bahwa air laut telah meluap dan mencapai daerah Ciseukeut hingga Sobang, Kecamatan Sobang. "Ini isu tsunami di Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Tolong untuk teman-teman Facebook segera membantu membagikan agar kita dapat info dari BMKG untuk kepastiannya," ujar pria di balik kamera. Ironisnya, alih-alih meredakan situasi, narasi permohonan tersebut justru memperkuat rasa takut warga lain yang menontonnya, memicu gelombang evakuasi besar-besaran.

- Advertisement -
Advertisement

Namun, setelah kehebohan mereda dan konfirmasi dilakukan, narasi mengerikan mengenai tsunami Anak Krakatau yang menerjang Pandeglang dipastikan adalah kabar bohong (hoaks) yang sangat berbahaya. Tidak ada catatan seismik mengenai gempa yang berpotensi tsunami, dan tidak ada satupun peringatan dini yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) malam itu. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pun berada pada tingkat yang stabil dan sama sekali tidak menimbulkan gelombang pasang seperti yang diisukan.

Usut punya usut, kepanikan tidak berdasar ini dituding bersumber dari ulah oknum tidak bertanggung jawab di media sosial. Berdasarkan gambar tangkapan layar yang beredar luas di dunia maya, sebuah akun Facebook dengan nama profil "Azka" teridentifikasi oleh netizen sebagai penyebar awal atau provokator informasi palsu tersebut. Akun dengan ribuan pengikut itu kini menjadi sorotan, dengan fotonya yang dibubuhi tulisan peringatan merah berbunyi, "Dan ini akun penyebar berita HOAX sekitaran tsunami."

Baca Juga Tebar Kurban di Pelosok Banten Selatan, Relawan Rumah Yatim Hadirkan Sapi Perdana di Kampung Blengbeng

Otoritas terkait sangat menyayangkan kejadian ini. Menyebarkan disinformasi yang berkaitan dengan bencana alam adalah tindakan fatal. Dampaknya bukan sekadar misinformasi, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan. Dalam situasi kepanikan seperti yang terekam di video, risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas saat evakuasi berdesakan jauh lebih tinggi dibandingkan risiko dari bencana yang diisukan itu sendiri. Selain itu, warga terpaksa meninggalkan harta benda mereka dan anak-anak serta lansia mengalami trauma psikologis yang tidak perlu.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpancing dan selalu memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya lebih luas (Saring Sebelum Sharing). Rujukan utama terkait mitigasi bencana haruslah bersumber dari lembaga resmi pemerintah. Sementara itu, pihak kepolisian diharapkan dapat mengusut tuntas pemilik akun penyebar hoaks tersebut untuk memberikan efek jera berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), agar kejadian serupa yang mempermainkan nyawa dan psikologis masyarakat tidak terulang kembali.