Sesi kualifikasi Grand Prix Meksiko 2026 menyajikan pemandangan kontras di garasi Ferrari. Di satu sisi, tim berlogo Kuda Jingkrak merayakan kembalinya mereka ke posisi start terdepan berkat penampilan gemilang sang juara dunia, sementara di sisi lain, atmosfer di garasi Charles Leclerc dipenuhi rasa penasaran sekaligus kekecewaan mendalam atas hasil yang diraihnya pada momen krusial penentuan posisi grid.

Percobaan pertama di sesi Q3 sempat membuat para pendukung setia Ferrari berbinar-binar sebelum akhirnya Lewis Hamilton menyajikan hidangan utama yang sempurna. Hamilton sukses memecahkan puasa panjang pole position, baik untuk dirinya sendiri maupun bagi skuad asal Maranello. Namun, hasil luar biasa tersebut justru menyisakan rasa pahit bagi Leclerc yang sempat memimpin catatan waktu, namun harus puas terlempar ke posisi ketiga akibat beberapa kesalahan kecil di lap penentunya.

Pembalap asal Monako tersebut harus rela melihat posisinya disusul oleh rekan setimnya sendiri serta pembalap andalan Mercedes, George Russell, yang mengamankan tempat di barisan depan. Kendati demikian, posisi start ketiga bukanlah bencana besar mengingat karakteristik lintasan lurus yang sangat panjang menuju tikungan pertama, di mana mengambil slipstream dari mobil di depan secara historis memberikan keuntungan aerodinamika yang signifikan jelang fase pengereman berat.

- Advertisement -
Advertisement

Berbicara kepada media usai sesi kualifikasi GP Meksiko 2026, Leclerc sama sekali tidak menutup-nutupi kekecewaannya dan secara terbuka mengakui kegagalannya. Tanpa mencari-cari alasan klise, ia dengan tegas menyatakan bahwa dirinya gagal memaksimalkan potensi mobil saat segalanya dipertaruhkan di Q3, sebuah tren negatif yang belakangan mulai sering terulang terutama ketika ia harus berjuang keras menjinakkan ban kompon lunak.

Mengenai kesulitan teknis yang dialaminya, Leclerc menjelaskan betapa rumitnya proses membawa ban dalam jendela suhu optimal. Sepanjang Q1, Q2, dan pada percobaan awal Q3, ia mengaku kesulitan mencetak lap persiapan yang ideal. Ketika ia akhirnya berhasil melakukannya pada run pamungkas, karakteristik mobil tiba-tiba berubah drastis di luar prediksinya, membuat ia gagal mengontrol arah kendali kendaraan secara optimal.

Baca Juga Lawson Bawa Racing Bulls Raih Poin Ketiga Beruntun di Austin

Menatap jalannya balapan utama hari Minggu, peraih pole position masa lalu ini memprediksi persaingan ketat dengan sedikit peluang manuver menyalip. Menurutnya, setelah tikungan pertama, aksi salip-menyalip di atas lintasan akan sangat terbatas akibat dua faktor utama, yakni manajemen suhu mesin serta rem yang sangat krusial di ketinggian sirkuit.

Kendala teknis tambahan juga datang dari regulasi kecepatan maksimal di mana mobil-mobil sudah mampu menyentuh kisaran 350 km/jam dengan mudah akibat udara tipis di ketinggian 2.200 meter. Situasi tersebut membuat mode menyalip kehilangan efektivitasnya karena batasan regulasi dan aerodinamika, memaksa para pembalap menghadapi batasan kecepatan yang membuat Leclerc merasa terkejut jika melihat aksi menyalip yang masif saat balapan nanti.