Masa depan Formula 1 di Amerika Serikat ternyata menyimpan cerita ambisius yang belum banyak diketahui publik. Mantan Chief Executive Officer ajang balap jet darat tersebut, Chase Carey, baru-baru ini membuka suara mengenai strategi ekspansi besar-besaran yang dirancang sejak awal pengambilalihan hak komersial oleh Liberty Media. Dalam sebuah forum diskusi eksklusif, terungkap bahwa kota metropolitan sebesar New York sempat masuk dalam daftar incaran utama sebagai tuan rumah Grand Prix baru, bersanding berdampingan dengan Miami dan Las Vegas.

Diskusi mendalam ini mengemuka dalam ajang Autosport Business Exchange edisi kedua yang diselenggarakan di showroom Manhattan Motorcars, New York City. Acara bergengsi tersebut berhasil mempertemukan para pemimpin senior dari berbagai penjuru industri motorsport, dunia bisnis, hingga jenama global ternama. Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Chase Carey yang memimpin F1 dari 2017 hingga digantikan oleh Stefano Domenicali pada awal 2021, memberikan perspektif berharga mengenai evolusi bisnis balap mobil roda terbuka di tanah Paman Sam.

Dalam percakapan di atas panggung bersama anchor Fox Business, Liz Claman, Carey menegaskan bahwa memperluas pengaruh Formula 1 di Amerika Serikat merupakan prioritas utama sejak hari pertama kepemimpinannya. Pasar Amerika dianggap bukan sekadar soal kuantitas penonton yang masif, melainkan sebuah motor penggerak bagi lanskap media global, jenama komersial, serta industri hiburan dunia yang berpusat di negara tersebut.

- Advertisement -
Advertisement

Carey menjelaskan lebih jauh mengenai kriteria ketat dalam memilih lokasi balapan baru di Amerika Serikat. Menurutnya, pihak manajemen tidak ingin sembarangan menempatkan kalender balap tanpa mempertimbangkan faktor visual dan daya tarik global yang kuat. Lokasi yang dipilih harus mampu memukau penonton di seluruh dunia dan merepresentasikan kemewahan serta gengsi ajang balap premier ini.

"AS penting, bukan hanya karena ukuran penonton di sini, tetapi itu mendorong media global. Banyak merek dan waralaba yang menggerakkan dunia media hiburan berasal dari AS," ujar Chase Carey dalam acara tersebut, menjelaskan alasan strategis di balik ekspansi agresif ke pasar Amerika Utara.

Baca Juga Kontrak Colapinto di Alpine 2027 Redam Drama 'Silly Season' F1

Lebih lanjut, Carey memaparkan bahwa dari sekian banyak opsi di negara seluas benua tersebut, hanya ada segelintir tempat yang dinilai layak memenuhi standar tinggi ke ikonikan sebuah balapan jalanan maupun sirkuit modern. Selain Sirkuit Amerika di Austin yang telah mapan dan menjadi favorit para penggemar, pihak manajemen mengerucutkan pilihan pada tiga kota utama yang dianggap mampu memberikan dampak maksimal secara komersial.

"Tapi kami ingin menambahnya di mana kami merasa bisa. Namun hanya ada tiga lokasi yang kami pikir benar-benar masuk akal bagi kami pada saat itu. Itu adalah New York, Miami, dan Las Vegas. New York, kami sadar secara realistis tidak akan terjadi. Jadi Miami dan Las Vegas menjadi tempat di mana kami pikir kami dapat memperluas jejak itu, memperluas kehadiran kami dan menambahnya sebagai blok bangunan untuk olahraga di AS," imbuh Carey kepada Liz Claman.

Meskipun rencana ambisius membawa ajang Formula 1 ke jantung kota New York akhirnya harus dikesampingkan karena kendala realistis, visi tersebut tetap membuahkan hasil luar biasa. Miami sukses bergabung ke dalam kalender balap pada musim 2022, disusul oleh kemegahan balapan malam di Las Vegas pada tahun 2023. Kedua kota besar tersebut bahkan telah mengamankan kontrak jangka panjang, di mana Miami dipastikan bertahan hingga setidaknya tahun 2041 dan Las Vegas akan terus menyapa penggemar hingga penghujung tahun 2037.

Chase Carey dan Liz Claman di Autosport Business Exchange
Chase Carey saat berbicara dalam Autosport Business Exchange di New York. Foto: Bryan Bedder / Getty Images