Ketegangan di paddock MotoGP kembali memanas menjelang seri balapan yang dijadwalkan berlangsung di Qatar dalam dua pekan mendatang. Situasi ini muncul di tengah ketidakpastian keamanan akibat konflik di kawasan Teluk yang terus berkecamuk sejak Februari lalu, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan para pembalap dan tim yang berlaga di kejuaraan dunia balap motor paling bergengsi ini.

Sebelumnya, dalam rangkaian akhir pekan Grand Prix Australia di Sirkuit Phillip Island, para pembalap sempat menggelar sebuah pertemuan rahasia. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas kepastian dan kelayakan untuk berangkat ke Qatar, sebelum akhirnya mereka mengeluarkan sejumlah tuntutan tegas kepada pihak penyelenggara demi mendapatkan jaminan keamanan yang menyeluruh selama perlombaan berlangsung.

Namun, sorotan tajam mengarah kepada Marc Marquez ketika sang juara bertahan memilih bungkam dan menolak memberikan komentar saat ditanyai awak media mengenai rencana balapan di Qatar pada hari Kamis di Phillip Island. Sikap tertutup pembalap asal Spanyol tersebut sempat ditafsirkan oleh berbagai pihak sebagai bentuk keengganan sang pebalap untuk ambil bagian dalam seri tersebut.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi polemik yang berkembang, manajer tim Ducati, Davide Tardozzi, langsung pasang badan dan melontarkan kritik keras terhadap para pembalap lain yang memilih untuk bungkam. Menurut Tardozzi, Marquez justru menunjukkan sikap yang sangat cerdas dalam memimpin rekan-rekannya untuk menuntut jaminan keselamatan yang konkret dari pihak promotor.

Dalam wawancaranya dengan Sky Italy, Tardozzi mengungkapkan kekesalannya terhadap sikap inkonsisten para peserta kejuaraan. "Mengenai Marc, ia secara sederhana adalah sosok yang paling karismatik; begitu banyak pembalap yang mengekspresikan pendapat di luar sana dengan jauh, jauh lebih keras daripada Marc, namun ketika tiba di dalam rapat di hadapan penyelenggara, mereka tetap diam," ujar Tardozzi.

Baca Juga Aturan Baru MotoGP: Absen Acara Pemasaran Berbuah Sanksi Tegas

Tardozzi menambahkan bahwa aksi diam tersebut merupakan sebuah pemborosan waktu yang tidak produktif bagi masa depan keselamatan para atlet. Ia merasa geram karena Marquez justru disudutkan dan disalahkan seolah-olah menjadi satu-satunya pihak yang menolak untuk pergi berlaga ke Qatar, padahal kenyataannya tidak demikian.

"Dan situasinya memang sedikit seperti itu, ini adalah buang-buang waktu. Karena itu, Anda kemudian menyalahkan Marquez karena menjadi satu-satunya orang yang menyuarakan aspirasi semua pembalap lain, yang memiliki keberanian untuk berbicara meskipun ada pembalap lain yang, seperti yang saya katakan dan ulangi, mengatakan hal-hal yang jauh lebih buruk daripadanya," lanjut Tardozzi menguraikan situasi pelik tersebut.

Lebih lanjut, Tardozzi menegaskan bahwa tuntutan yang diajukan oleh pebalapnya itu sangat rasional dan berfokus pada mitigasi risiko. Marquez disebutnya berupaya memediasi situasi untuk memastikan adanya rencana evakuasi darurat, opsi rencana cadangan, serta protokol keamanan yang memadai bagi seluruh rombongan paddock.