Mantan pebalap Daniel Ricciardo akhirnya membuka suara secara jujur mengenai gejolak batin yang dialaminya setelah resmi meninggalkan ajang balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1. Berbicara secara mendalam dalam siniar F1 Beyond The Grid, pebalap asal Australia ini merefleksikan kembali bulan-bulan berat yang harus ia lalui setelah posisinya di tim Racing Bulls digantikan menyusul Grand Prix Singapura 2024. Keputusan pahit tersebut mengakhiri sebuah perjalanan panjang di lintasan balap jet darat yang sudah ia rintis sejak debutnya bersama HRT pada musim 2011 silam, yang kemudian membawanya meraih delapan kemenangan grand prix serta 32 podium dari total 257 kali start.
Di balik senyuman dan keramahan yang kerap ia tunjukkan di depan publik, tersimpan beban emosional yang sangat masif dan melelahkan. Daniel Ricciardo mengaku bahwa dirinya sempat berjuang keras untuk menutupi rasa malu dan kegagalan akibat performa yang tidak sesuai dengan standar tinggi yang ia tetapkan sendiri. Tidak mampu menyelesaikan semusim penuh bersama Racing Bulls menjadi pukulan telak yang memicu rasa rendah diri, membuat pebalap asal Perth tersebut merasa seolah-olah seluruh pencapaian masa lalunya sirna begitu saja dalam sekejap mata.
“Tidak tampil pada level yang aku butuhkan pada saat itu atau tidak bisa menyelesaikan musim atau apa pun, itu kemudian memunculkan rasa penghinaan, seperti aku gagal dan aku tidak melakukan apa yang dulu bisa aku lakukan,” ujar Daniel Ricciardo. Ia menambahkan bahwa bulan-bulan berikutnya dihabiskan hanya untuk bersembunyi dari rasa malu tersebut. Publik melihatnya bersenang-senang dan menikmati minuman di tempat umum, padahal jauh di dalam lubuk hatinya terdapat timbunan rasa sakit, kesedihan mendalam, dan kesadaran bahwa impian masa kecilnya untuk merebut gelar juara dunia kini telah pupus sepenuhnya.
Tekanan masif untuk selalu tampil kompetitif ternyata bukan kali ini saja menghantui karier sang pebalap senior. Jauh sebelum didepak dari Racing Bulls, Daniel Ricciardo bahkan sempat berpikir untuk meninggalkan dunia Formula 1 atas kemauannya sendiri pada beberapa momen krusial masa lalu. Ia mengenang kembali momen-momen berat ketika dirinya berada di titik nadir, termasuk usai balapan di Sirkuit Silverstone pada musim 2015 serta setelah melakoni GP Monaco 2022 di mana ia secara terang-terangan berbicara kepada timnya bahwa ia sudah merasa muak dan ingin berhenti.
Baca Juga Lando Norris Jadi Sorotan Usai Diduga Ejek Lance Stroll“Aku bisa memberitahumu sekarang di Monaco 2022 setelah balapan, aku duduk di apartemenku berbicara kepada tim dan aku berkata ‘teman-teman aku tidak ingin melakukan ini lagi. Aku selesai’,” kenangnya mengenang percakapan tersebut. Meskipun demikian, berbagai dorongan dari orang-orang terdekat yang selalu meyakinkan bahwa dirinya masih hebat dan mampu bersaing membuat ia terus bertahan, sebuah siklus keraguan yang membuatnya kerap mempertanyakan apakah ia akan mampu mengambil keputusan pensiun secara mandiri tanpa campur tangan pemecatan dari tim.
Kini, setelah tirai kariernya di Formula 1 benar-benar tertutup, Daniel Ricciardo mulai menikmati babak baru kehidupannya di luar gemerlap paddock balap. Ia menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga dan teman-teman masa kecilnya di Perth, kembali menekuni rutinitas sederhana seperti membantu di pertanian keluarganya, serta fokus mengembangkan lini pakaian Enchante miliknya sembari mengemban peran sebagai Duta Global untuk Ford Racing. Transisi hidup ini memang tidak berjalan mudah, namun ia pada akhirnya merasa bersyukur pihak tim mengambil keputusan tegas tersebut karena ia tidak bisa membayangkan dirinya masih harus memaksakan diri membalap hingga saat ini.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!