Sejak Christian Horner secara mengejutkan didepak dari posisinya pada 9 Juli 2025, paddock Formula 1 terus diramaikan oleh spekulasi tak berujung mengenai apa yang sebenarnya memicu keputusan drastis tersebut. Berbagai pertanyaan sempat mengemuka, mulai dari tuduhan awal tahun 2024, fakta bahwa Red Bull hanya mampu memenangkan dua balapan grand prix pada paruh pertama musim 2025, hingga desakan ultimatum dari kubu Max Verstappen yang akhirnya mengubah peta kekuatan internal tim.

Kini, melalui wawancara mendalam bersama 60 Minutes Australia, sudut pandang Horner akhirnya terungkap ke publik tanpa ada hal yang ditutupi terkait para petinggi yang mendbarnya keluar dari markas Milton Keynes. Selama 15 bulan terakhir, Horner memang menikmati ketenangan di tanah miliknya di Inggris sembari mencairkan paket pesangon, namun waktu terbukti belum sepenuhnya menyembuhkan luka akibat akhir karier dua dekadenya yang berjalan begitu dramatis dan kontroversial di ajang balap mobil bergengsi ini.

Ketika ditanya mengenai momen pasti pemecatannya, Horner tampak melepaskan pertahanan media yang biasa ia tunjukkan selama bertahun-tahun menjabat sebagai prinsipal tim. Dengan ekspresi yang masih menyisakan ketegangan, ia mengungkapkan betapa mengejutkan dan menyakitkannya proses penyingkiran tersebut bagi dirinya pribadi setelah mencurahkan seluruh hidup bagi kesuksesan skuad asal Austria tersebut.

- Advertisement -
Advertisement

"Saya tidak pernah membayangkan berada di posisi ini," ujar Horner dalam wawancara tersebut. "Itu adalah waktu yang sangat sulit karena semuanya dieksekusi secara brutal. Maksud saya, saya menaruh hati dan jiwa saya ke dalam bisnis itu, dan tiba-tiba semuanya direbut begitu saja adalah hal yang sangat berat untuk diterima."

Bagi para pengamat yang mengikuti dinamika internal Red Bull, perebutan kekuasaan korporat antara perusahaan induk di Austria dan tim balap pimpinan Horner memang telah menjadi bom waktu sejak meninggalnya salah satu pendiri, Dietrich Mateschitz. Horner akhirnya memberikan jawaban substansial bahwa pemecatannya lebih merupakan pertarungan memperebutkan identitas dan kendali, bukan sekadar masalah performa di atas lintasan balap.

Baca Juga Masa Depan Liam Lawson Belum Jelas di Red Bull

"Mungkin saya dianggap memiliki terlalu kendali yang terlalu besar," ungkap Horner membeberkan alasan potensial di balik kejatuhannya. "Maksud saya, saya diberitahu bahwa situasi tim lebih mirip seperti Christian Racing daripada Red Bull Racing, sebuah kritik yang diarahkan pada bagaimana identitas tim melekat pada figur saya."

Tidak hanya membahas rasa kecewanya, Horner juga memberikan pembelaan tajam ketika pewawancara menyinggung apakah ia akan memecat dirinya sendiri mengingat penurunan performa tim pada pertengahan musim 2025. Dengan sigap, ia membeberkan rekam jejak kesuksesan finansial dan prestasi gemilang yang telah ia persembahkan untuk membungkam para eksekutif yang menudingnya telah merusak citra merek minuman berenergi tersebut.

"Saya pikir Formula 1 adalah bisnis yang berorientasi pada hasil nyata," tegas Horner membela warisannya di Milton Keynes. "Jika Anda melihat fakta mentah di atas meja, saya berhasil membangun tim dari nol menjadi kekuatan dominan dengan nilai komersial yang masif, dan sejarah panjang tersebut tidak bisa dihapus begitu saja hanya karena beberapa balapan yang sulit."

Christian Horner Red Bull Racing
Christian Horner saat masih memimpin Red Bull Racing. Foto: James Sutton / LAT Images via Getty Images