Perseteruan di paddock Formula 1 kembali memanas setelah Christian Horner secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap Toto Wolff dan tim Mercedes. Dalam wawancara terbarunya, Horner menilai bahwa rival lamanya tersebut kini menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang dan tanpa tekanan berarti di ajang balap kasta tertinggi dunia setelah dirinya tidak lagi memimpin Red Bull Racing.
Era regulasi mesin dan sasis baru di Formula 1 telah menyaksikan kebangkitan panen prestasi kubu Brackley. Mercedes kembali menjelma sebagai kekuatan dominan yang sulit dibendung, terutama setelah dominasi turbo-hybrid mereka sempat terhenti sejenak oleh gempuran Red Bull bersama Max Verstappen. Dengan performa mobil yang kian superior, musim-musim belakangan ini seolah membuka jalan mulus bagi Mercedes untuk kembali merajai tangga juara dunia.
Menurut Horner, kondisi tersebut membuat Wolff kini berada di zona nyaman tanpa adanya rival sepadan yang mampu memberikan tekanan psikologis maupun teknis secara konstan. Situasi ini dinilai berbeda jauh ketika persaingan ketat terjadi di antara kedua kubu pada tahun-tahun sebelumnya. "Toto merasa segalanya berjalan cukup mudah saat ini," ujar Horner kepada The Guardian, menyoroti dinamika kekuatan di grid.
Lebih lanjut, mantan petinggi Red Bull tersebut juga menyinggung posisi tim pesaing seperti McLaren yang dipimpin oleh Zak Brown. Horner berargumen bahwa hubungan pasokan unit daya membuat kubu McLaren tidak memiliki keleluasaan penuh untuk memberikan perlawanan psikologis yang agresif. "Zak Brown merasa terkompromi karena ia menggunakan mesin Toto, sehingga ia tidak bisa mengusik keadaan," tambahnya menegaskan.
Bagi Horner, tensi tinggi dan persaingan ketat adalah esensi utama yang menghidupkan dunia olahraga, persis seperti rivalitas legendaris antara manajer sepak bola Alex Ferguson dan Arsene Wenger, atau Jose Mourinho dan Pep Guardiola. Atmosfer kompetitif semacam itulah yang menurutnya selalu ia manfaatkan untuk memotivasi timnya guna meruntuhkan dominasi Mercedes pada masa lalu.
Baca Juga Lawson Bersyukur Kembali ke Red Bull, Tahu Tugas Berat di ZandvoortSelain menyoroti situasi di Mercedes, Horner juga memberikan klarifikasi tegas mengenai spekulasi liar yang sempat mengaitkannya dengan kursi pimpinan di Ferrari. Rumor kepindahannya ke Maranello mencuat setelah ia memberikan komentar kepada The Times yang kemudian ditafsirkan keliru oleh berbagai pihak, hingga memicu kekhawatiran mengenai masa depan Fred Vasseur di tim Kuda Jingkrak.
Menanggapi hal tersebut, Horner buru-buru meluruskan niatnya dan memberikan apresiasi kepada bos Ferrari saat ini. "Fred Vasseur adalah sosok berpengalaman. Ia telah melakukan pekerjaan dengan baik. Namun, saya lebih dari siapapun yang memahami tekanan luar biasa dalam mengelola organisasi yang kompetitif. Komentar saya kala itu telah diambil di luar konteks," ungkap Horner.
Ia juga menegaskan bahwa ambisi masa depannya di Formula 1 tidak berpusat pada posisi manajemen konvensional semata, melainkan melibatkan aspek kepemilikan saham. Mengingat Ferrari adalah entitas tertutup yang tidak akan melepas kepemilikan sahamnya, peluang untuk bergabung praktis tertutup. Horner pun mengaku santai menikmati masa istirahatnya sembari memantau peluang strategis lainnya yang mungkin melibatkan raksasa kendaraan listrik asal Tiongkok, BYD.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!