Pecco Bagnaia hanya butuh satu kata untuk menggambarkan perbedaan performa Ducati-nya di Grand Prix Jepang tahun ini: "Segalanya." Jawaban singkat itu keluar setelah sesi latihan Jumat yang menempatkannya di posisi ke-16, terpaut 0,775 detik dari Alex Marquez yang tercepat. Ini adalah kali keenam Bagnaia harus melewati Q1, sebuah indikasi jelas bahwa masalah yang menghantuinya sepanjang musim belum juga terpecahkan.

Dua belas bulan lalu, di sirkuit Motegi yang sama, Bagnaia meraih kemenangan sensasional dari pole position di kedua balapan. Kini, juara dunia dua kali itu tampak seperti pembalap yang kehilangan arah. "Kami kesulitan dengan grip, tidak ada grip, benar-benar nol grip," ujarnya dalam sesi jumpa pers singkat yang berlangsung kurang dari 90 detik. Masalah cengkeraman ban belakang yang menjadi momok sepanjang 2026 kembali menghantui.

Yang membuat situasi semakin rumit, Bagnaia merasa bahwa kali ini lebih sulit dibandingkan seri Austria beberapa waktu lalu. Di Austria, dengan ban AZ, level grip lebih rendah untuk semua pembalap, sehingga ia bisa lebih kompetitif. "Tapi kali ini, casing-nya sama seperti biasanya. Saya lebih kesulitan karena saya tidak merasakan grip ekstra," jelasnya. Perbedaan karakteristik ban menjadi faktor krusial yang membuat motor GP26-nya sulit dikendalikan.

- Advertisement -
Advertisement

Menariknya, Bagnaia adalah satu-satunya pembalap Ducati di atas GP26 yang tidak langsung lolos ke Q2. Rekan setimnya, Marc Marquez, berada di posisi ketiga dan nyaman melaju. Sementara itu, pembalap GP25 seperti Fermin Aldeguer dan Franco Morbidelli juga harus berjuang dari Q1. Morbidelli mengaku kecepatannya bagus dengan ban medium, tetapi tidak bisa mengulang performa itu dengan ban soft untuk time attack. "Saya tidak bisa meningkatkan cukup untuk membuat lap yang bagus," sesalnya. "Hanya kurang dua persepuluh, tapi itu cukup."

Bagi Bagnaia, hasil ini menambah tekanan di tengah musim yang penuh liku. Meskipun secara matematis peluang juara belum tertutup, konsistensi di barisan depan semakin sulit dipertahankan. Kesenjangan dengan para rival di klasemen bisa melebar jika ia terus terjebak di Q1. Ducati pun dituntut segera menemukan solusi teknis, terutama dalam hal pengaturan elektronik dan distribusi bobot untuk mengembalikan rasa percaya diri Bagnaia.

Baca Juga Marc Marquez Ucapkan Selamat ke Toni Bou atas 40 Gelar Juara Dunia

Melihat data, kecepatan Bagnaia di sektor-sektor tertentu masih kompetitif, tetapi ia kehilangan banyak waktu di tikungan lambat akibat kurangnya traksi. Ini adalah pola yang berulang sejak awal musim. Tim paddock Ducati dikabarkan tengah melakukan eksperimen dengan setelan suspensi dan swingarm untuk mengatasi masalah tersebut. Namun, dengan waktu yang terbatas sebelum kualifikasi, perubahan besar sulit dilakukan.

Kualifikasi nanti akan menjadi ujian mental bagi Bagnaia. Jika ia gagal bangkit, bukan tidak mungkin posisinya di tim pabrikan mulai dipertanyakan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Bagnaia sering kali mampu bangkit di saat terdesak. Akankah Motegi menjadi titik balik, atau justru memperparah krisis? Kita tunggu aksi di lintasan.